I

Artikel

TGB, Demokrat dan Buzzer Sosmed

Kamis
13:03:57 15 Maret 2018

Oleh; Cak Iwan Bejo/Penikmat Kopi Hitam

Sudah anda membuka sosial media (sosmed) Facebook, Instagram, dan Twitter? Begitu banyak "jamaah" menggunakan foto profil pria berkopiah bertuliskan TGB, akronim dari Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi. Gubernur dua periode NTB. Secara bergiliran menuliskan, TGB untuk Indonesia atau TGB 2019.

Bagi yang berpikir positif, masifnya dukungan di sosmed, bukti kalau TGB dikenal luas oleh publik. Anggap saja jamaah fesbukiyah melek politik. Tidak bagi yang negatif, dukungan sosmed dianggap buzzer atau robot. Yaaaah. Biasa lah, kalau urusan politik "gak nyinyir gak asyik".

Sebagai pecinta obrolan warung kopi, tentu saya begitu menikmati moment ini. Asyik lah. Rupa demokrasi negeri kian berwarna. Kalau ada nama lain semisal Rizal Ramli, Muhaimin Iskandar, atau Mahfud MD, itu kan nama-nama yang sudah terlalu familiar. Kurang menarik di warung kopi, karena media sudah sering menceritakan.

Selidik punya selidik, akibat masifnya dorongan TGB, sosok dari provinsi hanya dengan penduduk sekitar lima juta jiwa, terus dicari orang. Pengguna sosmed itu bukan hanya dari NTB. Banyak dari Aceh, Medan, Lampung, Jabodetabek, Surabaya, Jogjakarta, Solo, Kalimantan, Sumatera, hingga Papua.

Berapa hari lalu usai Rapimnas Partai Demokrat, akun partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kebanjiran komentar. Di Facebook, baik akun resmi partai, maupun milik SBY banjir komentar yang intinya satu, Partai Demokrat harus berani mempromosikan TGB. Belakangan malah di akun resmi SBY menghapus postingan yang dibanjiri kata-kata tentang TGB. Padahal di postingan itu ada juga yg isinya mendorong Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) maju di Pilpres 2019.

Sebentar dulu, sedikit intermezo, pagi ini Kamis (15/3), Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Mantan Ketua MK Prof Mahfud MD tiba-tiba membalas mention dari jamaah twitter yang mendorong TGB maju di Pilpres 2019. Dari akun pribadi menuliskan, @mohmahfudmd Saya setuju juga TGB menjadi salah seorang cawapres. Beliau teman saya yang saleh, fathonah. dan amanah. Ayo dorong TGB, biar banyak alternatif yang muncul dari luar mainstream, biar demokrasi kita lebih maju lagi. Dan komentar ini jelas bukan buzzer atau pasukan bayaran. Prof Mahfud MD boleh jadi bukan tokoh yang melihat TGB dengan kacamata kuda. Lurus tanpa tolah-toleh dengan sekitar. Bisa jadi, kabar referensi soal TGB begitu matang.

Cerita TGB beranjangsana, silaturahmi, atau sowan ke kiai sepuh NU dipastikan menyebar cepat. Dari obrolan warkop, di Jawa Timur sejumlah kiai khos seperti KH Sholeh Qosim, KH Agoes Ali Masyhuri (Sidoarjo), KH Sholahuddin Wahid maupun KH Rofii Baedowi (Madura). Ada pula KH Hasib Wahab Hasbullah, KH Irfan Sholeh Abdul Hamid, Nyai Hj  Mahfudhoh Wahab Hasbullah.
Belum lagi dari Jawa Tengah ada kiai sepuh H Maimoen Zubair, H Dimyati Rois. Belum di Jawa Barat, Jogjakarta, Sumatera, Aceh, dan masih banyak lagi. Ini belum menghitung kiai-kiai sepuh lintas ormas. Dan jangan lupa kiai lintas generasi alumni Universitas Al Azhar, Mesir.

Secara kultural memang antara Nahdlatul Wathan, organisasi masyarakat yang didirikan kakek TGB yaitu TGKH Zainuddin Abdul Madjid memiliki corak yang sama dengan NU. Tak mengherankan bila secara adab dan tata cara, TGB begitu memahami. Simpul-simpul diurai begitu rendah hati.Menempatkan diri sebagai penimba ilmu. Atau menempatkan diri sebagai sesama pendidik umat. Begitu pula di ormas lain seperti Muhammadiyah, Persis dan banyak lagi. Tak ada pertentangan. Menempatkan diri sesuai keilmuannya. Ulama yang tenang dan meneduhkan umat.

TGB Itu Figur Langka

"TGB HM Zainul Majdi itu kan belum teruji di nasional. Baru sekadar memimpin provinsi kecil."

"TGB juga bukan pemimpin partai.Tak bisa bergerak sendiri."

"TGB finansialnya pun tak sekencang para tokoh nasional. Susah menguasai media."

Itu sejumlah kutipan yang mengecilkan dan pesimis tentang TGB. Yang tentu masih banyak lagi keraguan kepada TGB. Kita coba memulai dengan terpilihnya TGB sebagai Ketua Ikatan Alumni Al Azhar, Mesir. TGB tak meminta. Tapi ketua sebelumnya Prof Quraish Shihab yang meminta. Karena perintah guru, TGB mengiyakan. Penunjukan TGB oleh pengarang Tafsir Al Misbah ini, jelas tak sembarangan. Ada ribuan alumni Al Azhar. Kok memilih ketua dari provinsi kecil?Dan secara absolute tak ada alumni yang mempertentangkan.

Barangkali untuk menjawabnya, saya perlu mengutip pernyataan kiai muda asal Pati, Jawa Tengah, Pengasuh Ponpes Raudlatul Ulum Gus Umar Fayyumi, TGB sebagai Satria Pinandito, umara yang juga ulama (pemerintah dan ulama) figur langka. Tak banyak gubernur, bupati atau wali kota berkategori ini. Apalagi tambahannya, doktor ahli tafsir yang hafal Quran. Manajemen pemerintahannya pun ciamik. Dua periode jadi gubernur. Kalau kita beli makanan cepat saji, TGB ini sesungguhnya paket komplit yang hemat di kantong.

"Kalau ada acara, gak bakal repot cari penceramah dan pengisi doa," begitu barangkali guyonannya.

Lantas kok belum muncul partai dan calon pemimpin 2019 yang mengajak TGB atau terang-terangan menyatakan TGB calon alternatif potensial? Sabar. Jangan offside. Pembicaraan politik di permukaan, kadang tak seperti yang terlihat. Semua saling intip. Tak hanya pasang mata, telinga pun menyusup ke semua dinding. Tujuannya jelas kalkulasi dan hitung-hitungan. Penentuan siapa Capres dan Cawapres 2019 masih Agustus mendatang. Kalau sudah ada yang terang-terangan merapat ke pemerintahan saat ini, masih bisa cair. Karena belum mendaftar ke KPU. Mengingat popularitas dan elektabilitas para calon masih dinamis. Beberapa bulan ke depan adalah kesempatan kocok dadu. Mencari-cari angka keberuntungan yang pas. Kita memang tak sedang bermain di meja judi. Namun, hitung-hitungan yang tepat tak akan membuat buntung. Tak ada parpol menolak untung. Parpol akan mengatur ritme sedemikian supaya, sembari mengamati arah perhatian publik. Pemilihan kepala daerah (Pilkada) provinsi maupun kabupaten dan kota, akan jadi salah satu batu pijakan.

Pusaran politik nasional ini memang tak mudah. Tapi, bukan berarti tak mungkin. Presiden saat ini Joko Widodo kan sudah membuktikan. Sesungguhnya menapaki jalan dari Wali Kota Solo menuju Istana Negara itu berproses. Jika kemudian dukungan pada TGB terus berjalan, jangan kaget bila kisah Presiden Joko Widodo terulang kembali.

Kepiawaian TGB dalam meracik sistem ini selaras dengan pernyataan Ki Hajar Dewantara. Ing ngarso sung tulodo, saat di depan bisa menjadi contoh. Pernah ada hal neko-neko soal TGB? Ing madyo mbangun karso, dengan ragam kesibukan baik sebagai kepala daerah dan ulama tak henti memberi semangat. Mereka yang alpa seolah mendapat spirit baru. Dan terakhir Tut Wuri Handayani, saat menjadi pemimpin dengan tegas mendorong supaya lingkarannya menjauhi korupsi. Bekerja secara kolektif dan berpihak pada masyarakat. Modal penting membangun negeri ini.

Balik lagi ke soal TGB di sosmed, harap dimaklumi obrolan warung kopi biasa merembet kemana-mana. Ramainya dukungan untuk maju ke Pilpres 2019, diikuti gerakan offline. Di hampir semua provinsi bergiliran muncul deklarasi. Bahkan ada yang serentak 11 Maret lalu. Jadi yang disebut buzzer atau robot pendukung TGB, terbantah dengan sendirinya. Sebenarnya tak susah mengidentifikasi akun-akun buatan ini. Tak perlu sampai serius seperti Saracen dan MCA. Perhatikan saja timeline, foto, dan pertemanannya. Bila dia normal, maka seperti akun yang anda miliki, interaksi dan jejaringnya lancar. Simpel saja.

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Suara NW

Akun Resmi Suara NW yang Dikelola oleh Admin.

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1391842

    Total pengunjung : 619.292
    Hits hari ini : 870
    Total Hits : 1.391.842