I

Artikel

Tradisi- Tradisi Masyarakat Yang Kurang Baik Bagi Kesehatan

Jumat
14:12:53 16 Maret 2018


Oleh: Rabiatul Adawiyah, S.Gz.
Himmawati HIMMAH NW Cab. Jakarta, S1 Nutrisi, Fakultas Kesehatan Publik, Universitas Indonesia


Sebagaimana daerah-daerah pada umumnya, lombok memiliki banyak tradisi atau kebiasaan masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan. Jika dinilai secara medis, beberapa tradisi ini kurang baik untuk kesehatan, namun karena sudah menjadi kebiasaan dan dipercaya baik oleh masyarakat, sehingga tradisi ini masih ada dan dipraktikkan oleh masyarakat kita. Berikut beberapa kebiasaan tersebut:


1. Sunat perempuan.


Sunat atau khitan perempuan didefinisikan sebagai perlakuan sedikit atau banyak, bahkan penghilangan klitoris karena alasan tradisi dan budaya, agama atau alasan-alasan lain di luar alasan kesehatan yang dilakukan kepada anak perempuan. khitan perempuan ini masih banyak dilakukan masyarakat terutama di daerah-daerah yang masih kental kepercayaan akan tradisinya, padahal sebenarnya khitan ini kurang baik bagi kesehatan karena klitoris bagi perempuan adalah bagian yang peka terhadap rangsangan dan bila bagian itu dihilangkan akan berkurang atau hilang sensitifitasnya serta dampak-dampak fisik, psikologis, dan seksual lainnya. Berbeda dengan khitan perempuan yang berbahaya dan tidak ada dampak positifnya bagi kesehatan, khitan laki-laki justru memiliki dampak positif karena kulup penis pada laki-laki dikhitan untuk membersihkan agar sisa kencing dan kotoran lain tidak tertahan.


2. Ketika makan, anggota keluarga laki-laki (ayah atau saudara) lebih didahulukan.


Tradisi ini sangat umum kita temukan, ketika tiba waktu makan maka seorang ibu yang sudah menyiapkan makanan lebih mendahulukan ayah atau saudara laki-laki untuk makan terlebih dahulu, anggota keluarga yang perempuan harus menerima sisa dari makanan tersebut. Jelas saja ini akan berdampak pada kesehatan perempuan, setiap orang memiliki kebutuhan kalori yang berbeda-beda. Anak-anak pada masa pertumbuhan membutuhkan zat gizi yang lebih banyak untuk menunjang pertumbuhannya, begitu juga dengan ibu hamil, kebutuhan akan zat gizi lebih banyak karena bayi dalam kandungannya pun membutuhkan asupan makanan.


3. Ibu hamil tidak boleh makan makanan laut


Para ibu hamil tidak dianjurkan untuk megonsumsi makanan laut seperti ikan, udang atau cumi. Mereka beranggapan jika mengonsumsi makanan laut maka ketika bayi lahir akan menghasilkan bau amis dan jika memakan cumi maka kepala bayi tidak akan berbentuk sempurna dan alasan lain di luar alasan kesehatan. Tentu saja anggapan ini hanyalah sebuah mitos yang tidak terbukti secara medis. Ibu hamil justru membutuhkan lebih banyak zat gizi untuk mendukung pertumbuhan janinnya, makanan laut memiliki kandungan protein dan omega 3 yang tinggi. Kebutuhan protein selama kehamilan meningkat sebanyak 10 gram per hari, fungsi protein bagi ibu hamil antara lain membantu pembentukan darah, cairan ketuban dan sel-sel janin, berguna dalam pertumbuhan jaringan dan plasenta, membentuk antibodi bagi ibu dan janin, sebagai zat pembangun atau pembentuk serta memperbaiki jaringan tubuh seperti otot, tulang, mata, kulit, jantung dan hati. Sedangkan omega 3 berupa DHA dan EPA. DHA berguna untuk mendukung kerja otak, mata dan sistem saraf pusat, sementara EPA berguna untuk mendukung kerja jantung, sistem kekebalan tubuh dan respon inflamasi. Jadi mengonsumsi makanan laut buakan merupakan sebuah larangan namun menjadi anjuran dan tetap memperhatikan kadar yang diperlukan tubuh.


4. Anak tidak diperbolehkan imunisasi karena akan mengalami demam


Untuk hal ini kemungkinan masih berlaku bagi ibu-ibu yang kurang pengetahuan mengenai manfaat imunisasi. Imunisasi merupakan suatu cara yang dilakukan dengan sengaja dengan memberikan kekebalan pada bayi atau anak sehingga terhindar dari penyakit tertentu sesuai dengan jenis dan macamnya. Demam adalah salah satu bentuk efek samping dari pemberian imunisasi, namun ini merupakan tanda baik yang membuktikan bahwa vaksin betul-betul bekerja secara tepat sehingga ibu tidak perlu khawatir. Tidak semua anak akan mengalami demam setelah diberikan imunisasi karena hal ini dipengaruhi oleh daya tahan tubuh oleh karena itu sebelum dibawa ke posyandu untuk diimunisasi, pastikan anak dalam keadaan sehat.


Itulah beberapa tradisi yang walaupun tidak banyak namun masih ada yang menerapkan dan dipercaya akan berdampak baik, tetapi justru secara medis hal tersebut kurang baik dan harus dihilangkan. (16/03).

*Tulisan ini pernah dipublikasikan di salah satu media online.

Sumber Foto: makassarterkini.com

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Suara NW

Akun Resmi Suara NW yang Dikelola oleh Admin.

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1391071

    Total pengunjung : 619.053
    Hits hari ini : 99
    Total Hits : 1.391.071