I

Artikel

PENTINGNYA PRESTASI BELAJAR DAN PENDIDIKAN KARAKTER MENUJU INDONESIA EMAS

Selasa
20:03:24 10 April 2018

Pendidikan merupakan wahana yang efektif dalam membangun dan meningkatkan martabat suatu bangsa. Pendidikan yang baik akan dapat  maenghadirkan manusia yang mampu  memahami harkat dan martabat kemanusiaannya;  Manusia yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga mulia hatinya dan sehat raganya. Hal ini sejalan dengan apa yang digariskan dalam Undang-undang Republik Indonesia tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia  yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab

Keberhasilan Implementasi Pungsi dan tujuan pendidikan sebagaimana disebutkan  di atas salah satunya dapat dilihat dari prestasi   belajar yang dicapai oleh siswa  pada tiap jenis dan jenjang  pendidikan. Prestasi belajar tersebut  merupakan tolok ukur berhasil tidaknya proses pembelajaran yang dilakukan dalam sebuah lembaga pendidikan. Semakin tinggi prestasi yang dicapai oleh siswa, maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan  proses pembelajaran tersebut. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah prestasi yang dicapai oleh siswa, maka semakin rendah pula tingkat keberhasilan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan.

Karena prestasi belajar merupakan tolok  ukur, maka sudah sewajarnya jika masalah prestasi belajar tersebut menjadi bagian yang urgen untuk diperhatikan dalam setiap penyelenggaraan pendidikan. Lebih-lebih dewasa ini seiring  pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menuntut sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus mampu menghasilkan out put berkualitas dan kompetitif sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan zaman.

Realita yang ada menunjukkan bahwa prestasi yang dicapai oleh siswa pada umumnya masih sangat rendah..  Hal ini dapat dicermati dari rendahnya mutu lulusan dihampir semua jenjang pendidikan, kurangnya kemampuan dalam menghasilkan karya yang berkualitas dan belum relevannya antara ilmu dan teknologi dalam suatu lembaga pendidikan dengan kebutuhan masyarakat,   ( Engkoswara, 1999).

Guru sebagai motor penggerak tumbuhnya motivasi  dan kreatifitas berpikir siswa perlu memaksimalkan pembelajaran dengan lebih banyak melibatkan siswa  secara langsung dalam proses pembelajaran. Sudah waktunya orientasi yang hanya menjadikan siswa  sebagai obyek  pembelajaran dirubah dengan lebih banyak memposisikannya sebagai subyek  pembelajaran. Kreatifitas guru perlu ditekankan pada upaya memfasilitasi peserta didik untuk belajar dengan berbagai teknik dan metode sesuai dengan tuntutan perkembangan. Guru dalam hal ini tidak hanya berfungsi mentransfer  ilmu pengetahuan kepada siswa dan mengajak siswa untuk belajar, melainkan juga mendidik siswa untuk “ Bagaimana belajar untuk belajar “.Guru perlu memberikan penekananan yang lebih kuat pada proses pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa lebih banyak untuk melatih kemampuannya berfikir, mengemukakan pendapat, bagaimana menghargai pendapat teman atau orang lain dan menggali potensi yang ada pada dirinya .

Dengan terciptanya kondisi yang demikian diharapkan dapat berdampak tidak hanya pada meningkanya kemampuan siswa dalam rangka mengakses setiap informasi atau materi pelajaran, melainkan juga diharapkan memiliki pengetahuan yang mendalam tentang informasi atau materi pelajaran yang didapatkan tersebut.

Berangkat dari berbagai fenomena ataupun berbagai asumsi di atas, maka dirasa perlu  untuk  terus menerus mengembangkan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif yang dapat menjembatani dan mewujudkan sebuah proses pembelajaran yang ideal bagi terwujudnya cita-cita pendidikan secara lebih konprehensif. Proses dalam kegiatan belajar mengajar dan hasil belajar siswa banyak ditentukan oleh sejauhmana siswa mampu dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dalam kerangka pemikiran di atas, maka peranan dan kompetensi guru menjadi sesuatu yang penting untuk diperhatikan. Guru yang kompeten akan mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, efektif dan juga mampu mengelola kelasnya sehingga belajar mencapai tingkat yang diharapkan.

Peran guru sebagai demonstrator, manager, mediator, fasilitator dan evaluator pasti banyak bersentuhan dengan gaya  belajar siswa. Guru harus peduli akan hal ini sehingga dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar selalu memikirkan strategi dan metode yang tepat untuk mengajar. Kunci utama keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar adalah kemampuan guru dalam memilih dan menggunakan metode yang tepat untuk digunakan. Metode yang mampu merangsang peserta didik untuk belajar, ( Hariono, 1995 ) dan metode yang mampu menjadi jembatan  antara siswa dengan materi pembelajaran yang sedang diajarkan. Aspek materi pembelajaran yang beragam dengan penekanan substansi tujuan yang berbeda-beda, sudah tentu membutuhkan suatu sinergi metode yang kompleks dan saling melengkapi. Dengan kata lain tidak ada satu metode belajar yang sempurna tanpa penyesuaian dengan substansi materi dan tanpa ada kombinasi dengan metode-metode pembelajaran yang lainnya.

Renstra (Rencana Strategis) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2010-2014 telah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk seluruh jenjang pendidikan di Indonesia mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Perguruan Tinggi (PT), dalam pendidikan di Indonesia. Berkaitan dengan pelaksanaan Renstra pendidikan karakter dia semua jenjang tersebut maka sangat di perlukan kerja keras semua pihak, terutama terhadap program-program yanng memiliki kontribusi besar terhadap peradaban bangsa harus benar-benar di optimalkan. Namun penerapan pendidkan karakter di sekolah memerlukan pemahaman tentang konsep, teori, metedologi dan aplikasi yang relevan dengan pembentukan karakter (character building) dan pendidikan karakter (character education). Pendidikan adalah sebuah proses untuk mengubah jati diri seorang peserta didik untuk lebih maju. Menurut para ahli, ada beberapa pengertian yang mengupas tentang depinisi dari pendidikan itu sendiri di antaranya menurut Jhon Dewey, pendidikan adalah merupakan salah satu proses pembaharuan makna dan pengalaman.

Selama ini para guru sudah mengajarkan pendidikan karakter namun kebanyakan masih seputar teori dan konsep, belum sampai ke ranah metodelogi dan aplikasinya dalam kehidupan. Idealnya dalam setiap proses pembelajaran mencakup aspek konsep (hakikat), teori (syariat), metode (tarikat), dan aplikasi (makrifat). Jika para guru sudah mengajarkan kurikulum secara konprehensif melalui konsep, teori, metodelogi, dan aplikasi setiap mata pelajaran di mana pendidikan  karakter sudah terinplementasi di dalamnya, maka kebermaknaan yang diajarkannya akan lebih efektif dalam menunjang pendidikan karakter sesuai dengan harapan. Pendidkan karakter sesungguhnya bukan sekedar mendidik benar dan salah, tetapi mencakup proses pembiasaan tentang prilaku yang baik sehingga siswa dapat memahami, merasakan, dan mau berprilaku baik sehingga terbentuklah tabiat yang baik. Menurut ajaran islam, pendidikan karakter identik dengan pendidikan akhlak. Proses pendidikan dengan bahasa sederhana adalah mengubah manusia menjadi lebih baik dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Namun, dalam praktikknya tidak semua sekolah memahami akan tupoksi tersebut dan lebih di tekankan pada aspek prestasi akademik (academic achievement). Sehingga mengabaikan pembentukan karakter siswa, walaupun dalam teori sosiologi menyebutkan bahwa pembentukan karakter menjadi tugas utama keluarga itu sendiri, namun sekolahpun ikut bertanggung jawab terhadap kegagalan pembentukan karakter di kalangan para siswanya, karena proses pembudayaan karakter-karekter positif menjadi tanggung jawab sekolah untuk dapat memastikan keberlansungan kebiasaan positif tersebut.

Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa sesuai dengan program yang termuat dalam nawacita pemerintah dalam bidang pendidikan yaitu melakukan revolusi karakter bangsa, adalah kearifan dari keaneragaman nilai dan budaya kehidupan bermasyarakat. Kearifan itu segera muncul, jika seseorang membuka diri untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural yang terjadi. Oleh karena itu pendidikan harus diletakan pada posisi yang tepat, apalagi ketika menghadapi konflik yang berbasis pada ras, suku dan keagamaan. pendidikan karakter bukanlah sekedar wacana tetapi realitas implementasinya, bukan hanya sekedar kata-kata tetapi tindakan dan bukan simbol atau slogan, tetapi keberpihak yang cerdas untuk membangun keberadaban bangsa Indonesia. Pesan akhir tulisan ini, berikan layanan yang terbaik kepada Pendidik dan Tenaga Kependidikan sehingga terwujud Generasi Emas dan menghormati pluralitas masyarakat Indonesia ”beradab” yang mengimplementasikan nilai-nilai luhur bangsa Indonesi yang berkarkter dan beriman.

 

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

ToNe Socius Max

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1390993

    Total pengunjung : 619.032
    Hits hari ini : 21
    Total Hits : 1.390.993