I

Artikel

Inilah Pendapat Prof.Quraish Shihab Tentang Sosok Maulanasyaikh*

Rabu
14:33:49 18 Mei 2016

Banyak sekali hal yang wajar diteladani dari Maulana Syaikh. Banyak hal yang belum dilakukan oleh para ulama’ akan tetapi dilakukan oleh Maulana Syaikh.  Saya beri contoh : Berapa banyak dari para ulama’ yang menulis buku? Maulana Syaikh, tidak kurang dari 20 buku yang beliau karang.

Berapa banyak dari para ulama’ kita yang mengarang nasyid? Maulana Syaikh melakukan itu. Berapa banyak dari ulama’ kita yang berkunjung ke daerah seperti halnya Maulana Syaikh dalam usia tua pergi ke pelosok untuk bertemu dengan ummat dan kalau tidak ada kendaraan beliau diusung. Berapa banyak yang seperti ini? Kalau bisa dikatakan tidak ada.

Ada hal penting yang mari kita lihat dari sosok Maulana Syaikh. Ada darah perjuangan yang mengalir pada darah Maulana Syaikh. Ayah beliau seorang pejuang dan pernah berjuang melawan Belanda. Setelah kembali dari Makkah, Beliau mengajar di mushalla yang dinamakan dengan Mushalla Al-Mujahidin. Pada masa beliau memang sudah ada gema kebangkitan, akan tetapi coba perhatikan nama-nama organisasi yang menggema pada masa itu. Ada Nahdlatul Fikr, Nahdlah al-Tujjar, Nahdlatul Ulama’, dan lain sebagainya. Sedangkan kalau beliau, yang dipilih adalah Nahdlatul Wathan yang artinya kebangkitan seluruh negeri. Bukan hanya ulama’nya, pemikirnya, pedagangnya tapi mencakup segalanya. Kalau kita menyebut al-wathan maka semua akan tercakupi. Memang dalam ajaran Al-Qur’an agama disejajarkan dengan negara dan itu yang difahami oleh kiyai besar kita Maulana Syaikh dalam Al-Qur’an.

Ada hal yang menarik juga dari Maulana Syaikh. Setelah empat tahun Maulana Syaikh mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), beliau kemudian mendirikan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI). Ini menunjukkan bahwa Maulana Syaikh faham akan pentingnya keterlibatan perempuan dalam sebuah negara. Karena, apabila perempuan tidak diikutsertakan dalam sebuah negara maka setengah dari proses pembangunan negara akan terabaikan. Betapa banyak dari negara yang mengabaikan pendidikan? Maulana Syaikh jauh sebelum negeri ini merdeka beliau sudah melakukan itu. Ini tidak mungkin beliau lakukan kalau beliau tidak memiliki pandangan yang jauh ke depan. Ini hal yang luar biasa dari beliau. Manusia yang syarat istimewa.

Di dalam Nahdlatul Wathan itu ada banyak dzikir-dzikir, dan saya lihat beliau sangat teliti dalam memilihnya untuk warga Nahdlatul Wathan. Contohnya, pada setiap pembukaan ceramah atau pidato yaitu bismillahi wa bihamdih. Ini mengajarkan kita bahwa ketika seseorang itu meminta dan mengingat apa yang sudah diberikan, yaitu mensyukuri apa yang diberikan sebelumnya. Itulah ajaran Maulana Syaikh yang harus kita pertahankan. Kemudian, pada setiap penutupan pidato atau ceramah, beliau menutupnya dengan waAllahul muwaffiq walhaadi ila sabiilir rasyad. Apa maksudnya?

Kata-kata al-Rasyad itu berarti seseorang yang terkumpul pada dirinya ilmu dan akhlaq. Nah, inilah yang ditanamkan oleh Maulana Syaikh terhadap warga Nahdlatul Wathan. Beliau tidak ingin warga Nahdlatul Wathan itu pandai saja tapi tidak memiliki hati nurani. Karena, orang yang berilmu lalu tidak memiliki hati nurani maka kepandaiannya akan dia pergunakan untuk korupsi, menipu, dan lain sebagainya.

Maulana Syaikh sudah memberikan akar dan dari akar itu banyak buah-buah segar yang tumbuh, dan banyak sudah buah-buah segar yang tumbuh untuk negeri ini dari akar yang beliau tanamkam. Jangan sekali-kali kita putus dari akar itu, yaitu cinta terhadap negara dan agama. Akan tumbuh buah-buah segar dari satu akar itu secara terus menerus untuk negeri kita Indonesia.

Ada satu hal lagi yang perlu dicatat. Maulana Syaikh mempopulerkan salam, yakni ketika guru masuk kelas lalu para santri mengucapkan salam dan ini sudah tidak ada lagi dimana-mana dan harus dijaga. Karena, dengan ini Maulana Syaikh mengajarkan kita untuk hormat kepada orang yang telah mengajarkan kita dan bagian dari ajaran agama. Sayyidina Ali pernah berkata, “saya adalah hamba. Bagi siapa saja yang mengajarkan saya satu huruf saja, maka ia bisa menjadikan saya sebagai budaknya.”

Di dalam ajaran agama, ada namanya syi’ar. Allah menamakan dalam Al-Qur’an binatang-binatang yang disembelih saat berhaji dengan nama syi’ar. Kalau binatang aja bisa dijadikan syi’ar, apalagi manusia. seperti beliau ini adalah syi’ar Allah dan kita harus menghormati syi’ar itu, karena menjunjung tinggi syi’ar Allah adalah bagian dari ketakwaan. 

-----------------

*Tulisan ini diambil dari rekaman tausiyah Prof. Quraish Shihab pada Hultah NWDI ke 73 di Pancor Lombok Timur.

 

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Zulkarnain

Abituren Nahdlatul Wathan, alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Founder Media Suara Nahdlatul Wathan.

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1041028

    Pengunjung hari ini : 6
    Total pengunjung : 576380
    Hits hari ini : 1388
    Total Hits : 1041028
    Pengunjung Online : 1