I

Artikel

“KEMAKMURAN NEGARA” DI TANGAN NAHDHATUL WATHAN

Rabu
05:43:25 01 Juni 2016

“Dan makmurkanlah negara kami dengan air-air Nahdlatul Wathan (Hizib Nahdlatul Wathan)”

Potongan do’a diatas bisa kita dapatkan dalam lembaran hizib nahdhatul wathan yang senantiasa dibaca oleh warga Nahdhatul Wathan dimanapun berada. Menurut saya, penggalan do’a itu telah menyentakkan saya dalam banyak hal; keindahan redaksi kalimatnya, pilihan diksi kata-katanya dan tentunya kedalaman makna yang dikandungnya. Dan keindahan itu hanya bisa dilakukan oleh yang memiliki nurani kebahasaan yang dalam dan potensi membaca prospek besar masa depan Negara ini. Kata “ kemakmuran” menjadi pilihan tema yang saya ambil, bertolak pada kata “ ‘ammir biladana” yang senantiasa mengarah kepada makna meramaikan Negara ini dengan kebaikan pada semua aspek kemajuan.

Lalu, sang Maulana dalam penggalan do’a diatas meminjam (isti’arah) kata “ miyah” yang berarti “ air-air” pada makna awalnya, yang kemudian saya pahami dengan “ Sumber Daya Manusia Nahdhatul Wathan”. Ketua MPR Zulkifli Hasan mengatakan “ tingkatkan kualitas SDM menjadi kunci kemakmuran Indonesia”. Indonesia merupakan Negara yang begitu kaya dengan sumber daya alam. Hanya saja kekayaan alam tersebut belum menjadi jaminan Indonesia menjadi Negara maju jika tidak dibarengi dengan pengelolaan sumber daya manusia. Kita bisa bercermin dari Singapura, Negara kecil yang berhasil memberdayakan sumber daya manusianya  menjadi unggul, berdaya dan bersaing. Artikel ini hanya akan menyuguhkan satu karakter  “ air-air” itu yang dijanjikan menjadi sebab kemakmuran Negara ini, walaupun karakter ini murni pembacaan penulis saja. Karakter-karakter air lainnya akan menyusul pada tulisan selanjutnya.

***

 

Pertama, “Air itu Mengalir”

Maulana Syaikh memperumpamakan para muridnya dengan miyah yang jika dit-erjemahkan menjadi air-air. Air merupakan salah satu unsur dari empat unsur yang ada dalam pribadi setiap manusia. Empat unsur itu yaitu ; air, api, udara dan tanah. Dan jika kita melihat pada firman Allah SWT yang terjemahnya “dan kami menjadikan semua yang hidup berasal dari air”, maka selaras de-ngan salah satu unsur empat yang ada dan juga merupakan bagian dari untaian do’a beliau.

Air jika dipelajari memiliki keunikan demi keunikan yang banyak memberikan ibrah bagi manusia. Ibrah bagi mereka yang berakal dan mau menggunakan akal-nya untuk menggali ibrah dan hikmah itu, karena misteri dan rahasia-rahasia ilahi ter-hampar di jagat raya dan menempel pada setiap sunnatullah yang berlaku di dalam-nya. Maka kemulian dan keaguangan mene-mpatkan diri menjadi para penimba pelaja-ran dari air.

Pelajaran pertama adalah air memiliki sifat “Mengalir”, tidak diam. Sifat mengalir melambangkan pergerakan yang dinamis, terencana, terukur dan bersih. Sifat menga-lir juga melambangkan keberkahan demi keberkahan, kebaikan dan kearifan yang ditimbulkannya dalam setiap geraknya. Ba-hkan air dipastikan membawa kehidupan bagi setiap makhluk yag dilewatinya.

Air berbeda dengan kayu yang statis, kaku dan jumud. Tetapi air itu luwes dan selalu bergerak menuju tujuannya. Bisa dib-ayangkan, semua makhluk akan mati apa-bila tidak ada air, karena air sumber kehidu-pan. Bahkan semua bagian dari pisik makhl-uk hidup didiami oleh mayoritas air. Maka air itu menghilangkan dahaga dan mendata-ngkan kesejukan, air itu menghilangkan ke-gerahan dan kepanasan dan mendatangkan kenyaman.

Albert Einstein pernah mengatakan “ Ja-ngan jadi orang yg berhasil, tapi jadilah ora-ng yg  berguna(bermanfaat). Apa yang dik-atakan oleh al-mukarram Albert Einstein sejalan dengan pribadi air yang pertama ini. Bergeraknya air sebagai wasilah untuk me-nyampaikan tujuannya. Tujuan besar itu bisa bermanfaat bagi makhluk lain yang be-rsandar kepada air dalam kelangsungan hid-upnya.

Sifat air yang selalu mengalir dan tidak kaku menjadi pelajaran berharga bagi kita, para murid Maulana Syaikh. Melirik ulang do’a Maulana Syaikh di awal dengan mem-inta kemakmuran buat neraga ini dengan air-air Nahdlatul Wathan. Bahwa ternyata ada makna tersirat yaitu para muridnya akan menjadi para pemimpin masa depan. Adapun pemimpin masa depan memang ter-lalu umum, minimal mereka menjadi pemi-mpin bagi keluarganya, embrio awal dalam menggerakan nilai-nilai mulia dan menjadi utuh ketika menyatu dalam masyarakat ba-ngsa yang lebih besar.

Dalam perjalannya kemudian, Perjuan-gan yang beliau tinggalkan menjadi warisan paling berharga untuk kita estafetkan. Perj-uangan yang harus selalu mengalir, berge-rak dan tidak mengenal diam. Ada tiga ra-nah yang beliau perjuangakan secara serius sejak awal dan menjadi perjuangan para Nabi dan rasul. Tiga perjuangan yang men-jadi pokus negara ini, semua organisasi dan LSM-LSM yang ada di dalamnya yaitu ; pendidikan, sosial dan dakwah.

Pendidikan merupakan awal kebangkitan sebuah negara. Tanpa pendidikan manusia akan selalu berada dalam kegelapan  dan ke-bodohan. Maka, para murid Maulana Sya-ikh harus menjadi kader pendidik yang han-dal, karena Maulana syaikh sendiri seorang pejuang pendidikan dan pendidik hebat. Oleh karena itu, dalam mengangkat bendera memperjuangkan pendidikan dibutuhkan pribadi air yang selalu berjalan, teratur dan dinamis.

Para pendidik yang berkepribaidan air itu tidak boleh pandang bulu dalam berbagi ilmu. Termasuk sarana pendidikannya juga tidak hanya menjadi tempat belajar warga Nahdlatul Wathan saja. Tapi ilmu dan sar-ana pendidikan itu untuk umat – tanpa mel-ihat label mazhab dan aliran yang dianutnya- ba-hkan untuk umat di luar Islam. Ini sejalan dengan sifat air yang tidak pandang bulu, tidak memilih-milih dan memilah siapa yang akan meminumnya. Begitu pun dalam bidang sosial dan dakwah. Dua bidang ini harus aktif bergerak dalam mendakwahkan kemanfaatan dan kebaikan kepada kepada jama’ah muslimini dimanapun dan kapanpun.

Air yang menga-lir seakan meng-ungkapkan sifat kader yang aktif, produktif dan kontributif bagi negaranya. Pikiran-pikiran konstruktif yang mewakili mereka untuk bangsanya. Tentu Idenya dalam bingkai kemakmuran. Pik-irannya dalam bingkai kesejahteraan dan keadilan. Dan idenya untuk kemerdekaan yang hakiki dari penjara dan penjajahan yang sesugguhnya masih bercokol di negara ini. Para murid dan kader Maulana senanti-asa konsisten menelurkan ide, bergerak me-ngawal idenya dan bahkan melahirkan tur-unan ide demi ide menuju Indonesia menj-adi Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Gafur.

Ingatlah! Memberikan kemanfaatan adalah cita-cita air dan merupakan indikator manusia terbaik. Bukankah Nabi Muhammad SAW sendiri pernah bersabda yang artinya” sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”.

***

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Abu Danis

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1041066

    Pengunjung hari ini : 6
    Total pengunjung : 576380
    Hits hari ini : 1426
    Total Hits : 1041066
    Pengunjung Online : 1