I

Artikel

TGB Tak akan Jadi Menteri, Tapi Presiden

Jumat
14:21:34 22 Juli 2016

Tulisan ini bisa saja dianggap terlalu berharap, memaksa, tidak logis, angan-angan saja, tidak berbobot; iya, bisa saja disebut seperti itu. Disebabkan penulisnya bukanlah siapa-siapa. Saya bukanlah pakar politik, bukan pengamat politik, bukan orang yang bertitle tinggi, bukan juga sanak famili TGB, bukan juga kerabat atau pun teman dekat.

Dari sisi umur, saya bukanlah orang yang telah berumur tua, saya hanyalah seorang “anak tadi pagi” dengan pengetahuan dan pengalaman yang amat secuil; sudah secuil, amat lagi;  masih mendingan anak kemarin sore, setidaknya ia lahir kemarin di waktu sore, sudah bisa merasakan kehidupan dan pengalaman lebih awal dari anak tadi pagi; Pun begitu dengan pengetahuannya.

Lantas, apakah karena saya anak tadi pagi, sehingga saya tidak punya otoritas membuat tulisan seperti ini? Apakah karena saya bukanlah siapa-siapa TGB, sehingga tidak pantas bagi saya membicarakan TGB? Apakah karena saya bukan pakar politik, ataupun pengamat politik, sehingga saya tidak bisa mengekspresikan diri dengan menulis ini?

Banyak yang menjawab “ia”, bagi saya jawaban “ia” membuat pertumbuhan dan perkembangan saya terhambat, anak tadi pagi yang ingin berkembang cepat dipaksa tetap merangkak.

Apapun itu, izinkan saya menghadirkan sepenggal perjalanan hidup saya menyangkut judul di atas “TGB Tak akan Jadi Menteri, Tapi Presiden”. Mengingat dulu, saat menjadi pendengar setia dalam diskusi dari kakak-kakak mahad, bertempat di Asrama milik TGH. Yusuf Ma’mun; maklum saya pernah bermukim di sana selama setahun, ketika kelas X MA Muallimin NW Pancor. 

Dalam diskusi tersebut, sebut saja seorang kakak Ma’had, Muhammad saleh Yahya Himni, kalau tidak salah nama lengkapnya seperti itu; sekarang beliau masih hidup, bisa ditanyakan kebenaran cerita saya ini. Kak Saleh bercerita mengenai perkataan dari Almarhum TGH. Muhsin Maqbul; kurang lebih bahasanya seperti ini, “kalau kata Almarhum TGH. Muhsin Maqbul, ‘nanti setelah TGB kita jadikan Gubernur, beliau kita jadikan Presiden’” tutur  Kak Saleh.

Cerita kak Saleh ini masih saya pegang sampai sekarang, dan saya merasa yakin TGB akan jadi Presiden, melihat pernyataan dari Almarhum TGH. Muhsin Maqbul yang menjadi kenyataan, bahwa TGB memang menjadi gubernur. 

Tulisan ini adalah sebuah reaksi dari pemberitaan-pemberitaan yang menyatakan bahwa TGB akan diangkat menjadi menteri. Bagi penulis pribadi, TGB akan bisa menjadi presiden, meski banyak juga yang beranggapan bahwa TGB masih jauhlah dari kursi presiden. Mereka beranggapan warga NW sedikit, jadi siapa yang akan memilih TGB.

Ada benarnya juga, kalau kita melihat kuantitas warga Nahdlatul Wathan dan itu kita wajibkan misalnya  memilih TGB; ya tentu TGB tidak akan menang. Tapi coba liha Ahok, ahok itu siapa? Dia tidak punya organisasi seperti NW, tetapi bisa jadi Bupati di daerah mayoritas muslim, dan sekarang jadi Gubernur, mau habis masanya sudah banyak yang dukung untuk naik lagi.  Coba lihat jokowi, siapa jokowi? Hanya anak tukang kayu; ia tidak punya organisasi seperti NW tapi toh bisa menang, karena ia memerintah dengan baik di Solo.

Ada yang beranggapan lagi, jokowi dan ahok punya media. Pertanyaan saya sejak kapan jokowi dan ahok dimediakan? Sejak jadi gubernur dan wakil gubernur. TGB tinggal mencalonkan diri saja, dengan segudang prestasi yang telah didapatkan selama menjadi Gubernur, media-media tentu akan menyoroti beliau. Perlu dilihat juga, bahwa warga Indonesia sudah berbeda sekarang, mereka sudah sangat pintar dalam memilih, mana yang bisa mendatangkan manfaat bagi negara, sudah  menjadi prioritas mereka dalam memilih.

Saya kira, warga NW juga tidak akan tinggal diam untuk memediakan beliau, toh kita punya Suara NW, meski kecil, tentu pihak Suara NW akan berfikir keras untuk bisa memediakan beliau, kalau memang sudah okay mencalonkan diri. (gimana Bang Dzul, hehe) dan tentu banyak juga media-media lain. Berapa banyak alumni Nahdlatul Wathan yang telah musafir keluar dari Lombok ke berbagai daerah di Jawa, mereka share saja mengenai TGB dan tandai teman-teman kuliah mereka, TGB sudah tersebar ke berbagai pelosok penjuru negeri ini.

Perlu diingat kembali, dalam sebuah berita online yang saya baca, bisa diperiksa di website partai Demokrat. Bahwa partai Demokrat akan mencalonkan presiden yang sudah menjadi Gubernur. Membaca berita ini, pikiran saya langsung melesat pada sosok TGB; kita tahu beliau adalah kader Demokrat, dan pernah menjadi Gubernur, kalau dihitung masa beliau yang sebentar lagi habis dengan pemilihan presiden.

Kita tahu juga, bahwa TGB adalah ulama, siapa yang tidak girang memilih ulama, Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim, meskipun belum tentu muslim secara kaffah. Tetapi jangan kira mereka tidak fanatik terhadap islam, bisa dibuktikan sendiri.

Sosok ulama di Indonesia sekarang ini mengenal TGB, kalau TGB mencalonkan diri saja, tentunya mereka akan merekomendasikan untuk memilih TGB. Prof. Din syamsuddin, mantan ketua Muhammadiyah, kenal dekat dengan TGB, sering juga menghadiri Hultah, orang berpengaruh di tubuh Muhammadiyah, kalau beliau merekomendasikan TGB, tentu warga muhammadiyah akan ikut juga. KH. Aqil Siradj yang kemarin berkunjung ke TGB, kagum dengan kepemimpinan TGB, bisa jadi kalau TGB mencalonkan diri, beliau juga akan merekomendasikan. Prof. Quraish Sihab, kenal dekat dengan TGB, bahkan TGB memanggilnya guru, kalau TGB mencalonkan diri, kemungkinan besar Prof. Quraish Sihan akan merekomendasikan beliau, dan banyak yang lain.

“TGB Tak akan Jadi Menteri, Tapi Presiden” judul ini memang agak sedikit terkesan, selesai menjabat Gubernur, TGB akan langsung mencalonkan diri sebagai Presiden. Tapi ketahuilah judul ini hanyalah sekedar judul untuk membuat tulisan ini menarik.

Kalau saya pikir-pikir, ada kemungkinan TGB menjadi menteri dalam jangka waktu yang singkat, setelah beliau selesai menjabat NTB 1. Kita tahu ada selang waktu PEMILU Presiden dengan akhir jabatan TGB. Bisa jadi beliau ditarik menjadi Menteri, dan disitulah kemudian ia tersoroti media.

Pada akhirnya, hanya Allah yang tahu. Warga NW perlu mengikhtiarkan, semoga “Semeton Timuk” segera memimpin di Barat. 

to be continued

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Salim Rahmatullah

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1091748

    Pengunjung hari ini : 12
    Total pengunjung : 577806
    Hits hari ini : 615
    Total Hits : 1091748
    Pengunjung Online : 1