I

Artikel

Menjawab Caci Maki Dengan Diam Menurut Al-Quran

Kamis
11:38:09 24 November 2016

suaranw.com-  Islam tidak memberikan celah sedikit pun untuk kebencian, bahkan tidak memberikan kesempatan umat untuk membalas ejekan orang lain. Walaupun dengan alasan untuk kebenaran dan membela Islam, Allah tidak pernah member izin untuk membalas ejekan atau cacian. Kecepatan dunia maya dalam menyebarkan sesuatu membuat banyak orang ingin menyuarakan Islam dan menyapaikan kebenaran. Namun banyak kita temui, tanpa disadari kita sudah terbawa arus hingga emosi dan saling mencaci satu dengan yang lainnya.

Lalu bagaimana kita harus bersikap ketika menghadapi orang yang menghina bahkan mengolok-olok kebenaran? Hal ini tentu sudah jelas termaktub dalam Al-Qur’an yakni dengan diam dan berpaling. Bahkan Tuhan melarang kita melayani orang-orang “bodoh” yang hanya bermodal cacian. Bodoh dalam hal ini memiliki dua macam, yakni orang yang tidak mengerti dan sadar bahwa dirinya tidak tahu. Dan yang kedua ialah orang yang bodoh tapi merasa paling benar dan yang paling pintar.

Seseorang dengan mudahnya mencaci maki seseorang sehingga kehilangan rasa objektifitasnya terhadap orang tersebut. menghadapi orang seperti ini tidak bisa lagi dengan argumen. Karena mereka tidak mengindikasikan ketidak-rasional pada pikiran mereka, sehingga mereka hanya memiliki pola kebencian dan senantiasa memprovokasi lawannya untuk bertindak sama dengan apa yang mereka pikirkan. Dan jawaban terbaik ialah diam, “Tidak menjawab orang yang bodoh itu adalah sebuah jawaban”. Adapun konseskuensi jika kita terpancing terhadap caci maki orang adalah kita tidak ada bedanya dengan mereka, bahkan virus mencaci maki ini lama-lama akan mejadi karakter dalam diri kita sendiri.

Ketika kita membuka kembali sejarah Nabi Muhammad saw, segala perkataan keji dilontarkan kepada mereka tapi tidak ada balasan dari Nabi kecuali kebaikan dan keindahan. Bersabar dan berpaling dari orang yang mencaci maki kita memang hal yang mudah seperti apa yang telah disampaikan Allah pada surah Al-Muzzamil ayat 10 yang berbunyi “Dan sabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakana dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik”. ini  merupakan cara yang paling efektif untuk meredah para pencaci maki, karena mereka membawa misi untuk mengajak kita pada lubang kebencian.

Jika kita lihat tradisi mencaci maki ini sudah marak terjadi di Negeri kita, sekan hal ini sudah menjadi suatu kebiasaan dan hal yang biasa. Akibatnya mereka memiliki kebebasan, kebebasan mencemarkan pengaruh yang buruk. Sering mencaci itu dimulai dari kata-kata yang sederhana, semakin panas semakin keluar kata-kata yang keji bahkan hingga mengejek fisik seseorang. Sama saja halnya dengan seseorang melihat suatu lukisan kemudian ia mencacinya, kira-kira siapa yang sebenarnya dicaci? Lukisan itu apa pelukisnya? Nah, seseorang yang menghina fisik seseorang sama saja ia menghina penciptanya, Naudzubillah!

Maka dari itu kebenaran harus disampaikan dengan cara yang benar. Kebenaran tidak perlu dibela dengan hal-hal yang kotor. Diam tersebut juga bukan berarti kalah diam dalam menghadapi seseorang yang mencaci maki merupakan tindakan rasional dan tanda orang yang berakal. Jangan pernah merasa harus membela kebenaran dengan apapun caranya. Karena kebenaran itu ada pemiliknya, dan pemiliki kebenaran yang mutlak adalah Allah Swt.

Jangan pernah menganggap diam itu kalah. Kita sedang memperjuangkan agama Allah bukan ingin memenangkan ego kita sendiri, karena itu harus dengan cara-cara yang direstuiNya. (24/11).Riza/sumber: Khazanah Islam

 

------------------------

Photo:http://www.occupycfs.com/wp-content/uploads/2014/04/black-tape-mouth-shut-no-speaking-700x45_660.jpg

 

 

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Riza Mariani

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1043133

    Pengunjung hari ini : 7
    Total pengunjung : 576440
    Hits hari ini : 465
    Total Hits : 1043133
    Pengunjung Online : 1