I

Artikel

Memahami Makna Ulama

Kamis
14:39:32 01 Desember 2016

suaranw.com- Secara sederhana, ulama berasal dari bahasa Arab adalah jamak (plural) dari Alim yang artinya orang berilmu atau ilmuwan. Dalam bahasa Indonesia kata ulama yang jamak itu dipakai untuk singular sedang untuk yang banyak kita sering menyebutnya sebagai Alim Ulama. Namun siapakah sebenarnya berhak untuk bisa menyandang gelar ulama ini? adakah syarat-syarat sebelum orang dapat disebut sebagai ulama? Fungsi apa yang diharapkan dari seorang ulama?

Di dalam Al-Quran kata ilmu dan ulama tidak banyak dihubungkan dengan pengetahuan agama, namun lebih banyak berhubungan dengan penguasaan atas pengetahuan umum. Ayat pertama yang berbunyi “iqra’ bismi rabbika” yang berarti bacalah atas nama Tuhanmu ini mengindikasikan tidak batasinya dalam membaca wahyu saja karena pada masa itu budaya untuk tulis menulis belum populer. Iqra’ disini maksudnya lebih luas lagi yakni membaca keagungan ciptaan Tuhan berupa mahkluk dan alam semesta. Artinya, manusia diminta untuk meneliti kebesaran Tuhan dengan membaca atau memperlajari seluk beluk alam serta rahasia diri manusia. Imam Ghazali beranggapan bahwa Al-Quran adalah sumber semua pengetahuan di tengah sebagaian orang yang menganggap bahwasanya Al-Quran hanya sebagai kitab petunjuk moral dan tauhid bagi manusia.

Imam Al-Ghazali juga membagi ilmu kedalam dua bagian, ilmu umum yang hukumnya fardhu kifayah (tidak semua muslim wajib menguasainya), dan ilmu agama yang hukumnya fardhu ‘ain (setiap muslim harus memperlajarinya). Disamping ulama, Al-Quran juga menyebut orang-orang yang terpelajar sebagai al-‘alimin (QS 30:22) sedangkan untuk kata kerja sebagai bentuk proses yang tidak berhenti, digunakan istilah mereka yang ya’qilun (berakal), ya’lamun (mengetahui) dan yang lain. Sehingga dengan demikian Al-Quran memang bukan sekadar untuk dibaca tetapi untuk dikaji. Orang dahulu mengatakan mengaji ketika kita membaca Al-Quran.

Kata ulama itu populer sejak kekuasaan Ottoman ketika ulama diresmikan sebagai gelar tertentu untuk penyandangannya diberi posisi dalam urusan Negara sebagai “pejabat” yang berwenang menafsirkan Islam dan memberi fatwa. Pada masa itu seluruh negeri Muslim menggunakan sebutan ulama bagi yang dianggap menguasai ilmu agama Islam. Padahal Al-Quran lebih cenderung menyebut ulama sebagai mereka yang menguasai ilmu tentang fenomena alam. Lalu apa syarat bagi seseorang bisa dikatakan sebagai seorang ulama? Menurut beberapa ahli, ulama dalam arti sebagai ahli dalam agama Islam, paling tidak harus menguasai ilmu-ilmu tertentu, seperti; ilmu Al-Quran, Hadist Ushul Fiqh, Fiqih, mengerti dalil nasikh mansukh dan yang lain. Dan kunci semua itu adalah penguasaan yang kuat atas bahasa Arab dan ilmu-ilmunya dan yang paling penting ialah ilmu mantiq atau logika. Hingga tak jarang sebagian ulama tidak dapat mengisolasi diri dari perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat pesat karena banyak dalam hal-hal tertentu tidak dapat menafsirkan ajaran Islam yang terlepas dari pemaknaan multi disiplin. Tidak hanya dalam masalah ilmu pengetahuan. Menurut Quraish Shihab takut bercampur kekaguman atas keagungan Tuhan. manusia yang beginilah yang kemudian bisa menjadikan dirinya rendah hati, akhlak mulia, serta terus-menerus menggali kedalaman tuntunan agama daengan niat yang tulus.

Di Negeri kita banya mereka yang mengaku ulama, kiai, habib, kira-kira berapa banyak yang memenuhi semua persyaratan tersebut? mereka banyak diharapkan sebagai guru mulia maupun memberikan kejelasan hukum tanpa menimbulkan keresahan, lemah lembut tutur katanya, mewujudkan ketentraman dengan ketenangan batin kepada yang belum atau tidak seiman. Serta bisa mencegah kekacauan yang bisa menyengsarakan umat. Banyak yang mendeklarasikan dirinya ulama namun mereka pandai membungkus kebatilan dengan kebaikan. Ulama adalah pewaris Nabi yang secara otomatis mewarisi kitab suci setelah wafatnya. Tentu Al-Quran juga telah menyebutkan bahwa pewaris itu adalah orang-orang pilihan, dan bahkkan juga disebutkan bahwa ada diantara ulama yang menyalagunakan AL-Quran untuk kepentingan pribadinya (QS. 35:32).

Jenis ulama yang harus kita waspadai adalah ulama penguasa dan penjilat yang mencari pengikut sebanyak-banyaknya bukan dengan maksud baik tapi untuk meraih kehormatan dan keutungan pribadi. Semoga Allah menjaga umat Islam dan bangsa Indonesia dengan menghadirkan pemimpin yang benar-benar berakhlak mulia, berilmu tinggi dan berhati bening, bukan penyulut pecahnya umat. (1/12).Riza/Sumber:Gerakan Islam Cinta

 

 

photo: pakistanisforpeace.

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Riza Mariani

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1094811

    Pengunjung hari ini : 21
    Total pengunjung : 577861
    Hits hari ini : 623
    Total Hits : 1094811
    Pengunjung Online : 1