I

Artikel

Memaknai Shalat Melalui Penghayatan Imam Al-Ghazali

Selasa
07:57:59 06 Desember 2016

suaranw.com- Imam Al-Ghazali, Hujjatul Islam memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad ibn Mumammad Al-Ghazali. Seorang ilmuan dan ulama muslim yang lahir di Thus, Iran sekarang pada tahun 457 H/1058 M dan meninggal dunia pada tahun 505 H/111 M. Imam Al-Ghazali dikenal sebaga sufi dan menjadi tokoh sufi terbesar dalam sejarah Islam, adalah seorang filosof sekaligus ahli fiqih yang amat menguasai di bidang ilmu ini. Ketika beliau mengalami krisis intelektual dan spiritual yang pada akhirnya membawanya kepda keyakinan bahwa tasawuf adalah jalan hidup yang terbaik bahkan membawa orang kepada kebaikan dan kebenaran yang tertinggi.

            Al-Ghazali merantau dari kota kediamannya selama 17 tahun di wilayah Palestina dan Suriah. Pada masa-masa inilah karya populernya di bidang tasawuf yang berjudul Ihya’ ‘Ulum Al-Din. Merupakan salah-satu karyanya puncak sistemasi ajaran-ajaran tasawuf dan mendemontrasikan keselarasannya dengan syariat. Begitu pentingnya karya ini sehingga ada yang berpendapat bahwa ihya’ adalah karya tulis terpenting ketiga setelah Al-Quran dan Hadist.

            Dalam kitabnya itu Al-Ghazali menyebutkan bahwasanya shalat yang memenuhi persyaratan sebagai shalat yang baik yakni yang memancarkan cahaya-cahaya di dalam hati. Yang selanjutnya merupakan kunci bagi ilmu-ilmu mukasyafah (penyingkapan rahasia-rahasia besar ketuhanan yang berhubungan dengan aspek penciptaan dan pemeliharaan alam semesta). Dan menurutnya wali-wali Allah selalu mengalami hal ini dalam shalat-shalat mereka. seperti apa yang tertera di dalam kitabnya itu beliau menyebutkan “Apabila seorang hamba sedang berdiri dalam shalatnya, Allah swt. Mengangkat tirai yang menghalangi antara Dia dan Hamba-Nya itu. malaikat berbaris, mulai dari kedua bahunya sampai ke langit, bershalat mengikuti shalat-shalatnya dan mengucapkan amin atas doanya

            Dikatakan pula, apabila seorang hamba bershalat, perbuatan-perbuatan itu dikagumi oleh sepuluh ribu malaikat. Setiap baris terdiri atas sepuluh ribu malaikat. Allah pun membanggakannya di hadapan seratus ribu malaikat. Hal itu disebabkan sang hamba telah menghimpun gerakan-gerakan berdiri, duduk, ruku’ dan sujud, sedangkan Allah telah membagikan gerakan-gerakan itu diantara empat puluh ribu malaikat. Para malaikat yang bediri tak akan sujud, yang sujud tak akan ruku’ sampai hari kiamat. Hal ini sudah dijelaskan di dalam Al-Quran “Tiada satu pun diantara kami (para malaikat) melainkan mempunyai kedudukan tertentu.” (QS. Al-Shaffat 37:164)

            Demikian terbukanya pintu langit bagi si hamba yang sedang shalat dengan khusuk dan menghadirkan dirinya kepada Tuhan. sebagian orang mengatakan bahwa kami menilai kerawanan hati, ratapan, dan penyingkapan kegaiban yang dijumpai oleh seorag yang bershalat, dalam hatinya adalah disebabkan penghampiran Allah Swt, kepada hati orang itu. Penghayatan ini dijelaskan oleh Al-Ghazali adalah bagaimana seseorang shalat bisa mengungkap kegaiban atau yang disebutnya sebagai mukasafah dan untuk mencapai hal ini manusia harus membersihkan jiwanya terlebih dahulu dengan hiasan perangai akhlak yang mulia serta ketulusannya untuk beribadah kepada Allah SWT tanpa ada paksaan apapun.

            Karena jika hal tersebut masih saja ada di dalam hati manusia, maka akan kesulitan untuk mencapai mukasafah ini. Inilah penghayatan atau makna shalat yang hendak ditunjukan kepada Al-Ghazali, hal ini membuktikan bahwasanya beliau sudah merasakan hal-hal demikian sehingga memang pantas menadapatkan gelar Hujjatul Islam.(6/12)/Riza/sumber: Haidar Bagir

 

 

photo:islam cinta

 

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Riza Mariani

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1094797

    Pengunjung hari ini : 21
    Total pengunjung : 577861
    Hits hari ini : 609
    Total Hits : 1094797
    Pengunjung Online : 1