I

Artikel

‘Ruh’ Abu Lahab di Era Kekinian

Sabtu
12:41:54 17 Desember 2016

SUARANW.COM- Siapa yang tak kenal dengan Abu Lahab? Ia adalah hartawan dan memiliki kedudukan penting dalam kafilah terbesar bangsa Arab, yaitu Klan Qurays. Kekayaan itu berhasil dihimpun dari monopoli sektor perekonomian, merusak keadilan pemasaran atau melakukan keculasan dalam bisnis. Kedudukannya juga memegang kendali masyarakat pada masa itu, artinya karena kekuasaanya adalah perwujudan law in action itu sendiri. Hingga datanglah Nabi Muhammad yang membawa Islam di tengah-tengah kehidupan bangsa Arab. Abu Lahab langsung memusuhinya, padahal sebenarnya ia tahu kalau Muhammad itu benar-benar seorang Rasul dan ajaran yang dibawanya merupakan wahyu ilahi untuk menyelamatkan kehidupan manusia.

            Abu Lahab dengan provokasinya, ia banyak mengintimdasi secara fisik maupun psikologis untuk an “membunuh” gerakan dan pengaruh dakwah Islam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan pengikutnya. Bahkan ia yang memprovokasi teroris untuk membunuh Nabi ketika hendak meninggalkan Mekkah. Lantaran dengan ini Abu Lahab tidak ingin ada pemimpin yang memimpin rakyat kelas bawah yang membawa ajaran pembebasan perbudakan dan semacamnya. Jika ia tunduk kepada Islam maka ia akan tunduk pula di bawah perintah Nabi. Sementara harta yang diusahakannya ditimbun harus dikeluarkan untuk zakat, memerdekakan budak, dan lainnnya dimana hal ini bertentangan sikap dan kebiasaannya.

            Hingga Tuhan menghukumnya, kekuasaan yang dibangun tidak menolongnya sedikitpun (Al-Lahab: 1-3). Lantas bagaimana masyarakat dewasa ini, apakah umat islam tidak memiliki sosok Abu Lahab?

            Mengingat kembali ‘ruh’ prilaku Abu Lahab belum ikut mati, ia ternyata banyak I menjiwai pola hidup masyarakat modern malahan lebih sempurna dan kompleks seiring dengan tingkat kemajuan yang dicapai masyarakat. Kita secara efektif menguasai ajaran Islam, akan tetapi hanya sebatas pemanis bibir semata. Usaha untuk mengerjakan ibadah, syariah, dan akhlak luhur tidak dimaksimalkan. Malahan yang sekaran berkembang malah pembangkangan terhadap kebenaran yang sistematik.

            Begitu pula dengan sikap tidak jujur, manipulasi kode etik pekerjaan, menghalangi kesempatan orang lain untuk maju dan berprestasi, ingkar terhadap sumpah, dan mengorbankan kemanusiaan untuk kepentingan segelintir orang. Di tengah masyarakat bahkan tempat-tempat yang menjadi pusat ritual dan humanisasi muncul kejanggalan-kejanggalan seperti ini yang berbajukan intelektual dan keislaman. Sebagian sangat berperan aktif dalam menembak masyarakat dengan dalil dan konsep keilmuan yang sesunggunya terlibat aktif dalam korupsi nilai-nilai ketauhidan.

            Mereka menggandeng Islam sebagai sumber absolut dan pemimpin untuk hawa nafsunya, bukan untuk kepentingan masyarakat, hingga sampai menimbun harta dengan segala cara. Ketidakjujuran, kelicikan, kebohongan, dan berpribadi ganda diputar balikkan untuk kepentingannya dengan berasaskan “siapa yang memakan siapa”, dan “siapa yang perlu dikorbankan.”

            Abu Lahab menjadi simbol manusia yang selalu tidak puas dengan kenikmatan dan berusaha merampas milik sesamanya untuk dikuasai. Padahal Nabi sudah mengingatkan, bahwa orang yang menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesarnya, maka tak ada  hubungan sedikitpun antara dia dengan Allah, dan ditetapkan Allah di hati orang ini empat perkara, pertama kegelisahan tanpa henti, kedua, kesibukan yang tak kunjung berakhir, ketiga, rasa kurang yang tak pernah cukup, dan empat angan-angan yang tak pernah sampai. Semoga ini menjadi pengingat kita sekaligus penulis untuk kesadaran kita akan hakikat kehidupan dan Ketauhidan.(17/12).Riza/sumber: Islam di tengah sosial

 

 

 

photo:musin

            

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Riza Mariani

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1094800

    Pengunjung hari ini : 21
    Total pengunjung : 577861
    Hits hari ini : 612
    Total Hits : 1094800
    Pengunjung Online : 1