I

Artikel

Mengintip Euforia Malam Tahun Baru

Jumat
19:01:04 30 Desember 2016

Tahun 2016 dalam hitungan jam akan segera mengucapkan selamat tinggal, sedangkan tahun 2017 sudah siap menyambut kedatangan kita. Euforia bagi sebagian orang semakin terasa seiring semakin berkurangnya bilangan waktu itu. Lebih-lebih pergantian tahun kali ini bersamaan dengan libur panjang nasional, dimana besar kemungkinan jumlah orang yang yang merayakannya pun semakin membludak. Saya teringat satu tahun yang lalu saat pergantian tahun 2015 menuju 2016, terlihat hampir disemua stasiun TV memberitakan bagaimana sesaknya antrian stasiun kereta api, padatnya jadwal penerbangan, dan sibuknya pelabuhan, padahal waktu itu hari libur resmi hanya satu hari. Bayangkan kalau liburnya sampai dua minggu seperti tahun ini! Berbagai opini yang menanggapi tentang perayaan tahun baru itu juga turut serta meramaikannya. Ada yang membolehkan, adapula yang mengharamkan. Namun dalam tulisan ini saya tidak akan berbicara boleh tidaknya, melainkan saya akan berbagi pengalaman saya mengenai perayaan malam tahun baru yang kebanyakan orang lakukan semata-mata untuk mengetahui secara nyata apa yang terjadi di lapangan.

Untuk mengetahui itu, pada pergantian tahun 2015 ke 2016 saya bertolak bersama teman-teman saya kesalah satu lokasi wisata di daerah kami yang paling banyak diminati untuk merayakan tahun baru. Di tempat itu, kami mencoba membaur dengan menghibur orang-orang yang ada disana melalui persembahan musik, sekalian promosi alat musik buatan teman kami juga. Nah ditempat itulah, saya mencoba mengamati aktifitas orang-orang sekitar. Saat itu yang banyak saya temukan adalah pasangan muda-mudi yang sedang berdua-duaan, dimana saya dan orang-orang yang melihat mereka pun bisa memastikan kalau mereka bukanlah pasangan suami istri. Contohnya dari kisaran usia mayoritas mereka yang belasan tahun, cara membawa diri, dan yang lainnya yang keumuman orang telah ketahui. Aktifitas yang mereka tunjukkan pun sangat tidak pantas bagi budaya ketimuran kita, bahkan bagi pasangan suami istri sekali pun, contohnya bercumbu rayu tanpa malu, pelukan, bahkan berpagutan. Seketika itu saya teringat akan pesan ustadz saya untuk selalu berfikir positif, sayapun hanya bisa bergumam dalam hati, “Ah betapa baiknya cowok itu melindungi cewek itu.”he.

Saat persembahan musik dari kami mulai, orang-orang mulai merapat, sebagian dari mereka terlihat dalam kondisi mabuk. Malah tidak lama kemudian merekalah yang menjadi penikmat utama musik kami dengan joget-joget sempoyongan sambil mencekek botol! “Waduh sepertinya kali ini saya tidak bisa mengikuti kata ustadz saya,” gumam saya dalam hati lagi. Sungguh apa yang saya saksikan pada malam itu penuh dengan perbuatan sia-sia, bahkan maksiat. Yang lebih parah, perbuatan inilah yang justru paling banyak dinikmati dimalam tahun baru.

Selebihnya, banyak fakta yang bisa kita temukan yang dimuat dimedia. Misalkan saja fakta bahwa jumlah kondom dan alat kontrasepsi terjual dengan jumlah yang berlipat-lipat dari hari biasa, disamping tingginya permintaan akan minuman keras. Lebih banyak lagi fakta yang sebenarnya bisa kita temukan terutama kalau kita mau mencarinya misalkan di mbah google. Ironisnya justru lebih banyak fakta-fakta yang membuat geleng-geleng kepala dimana itu lebih banyak dilakukan oleh generasi muda penerus bangsa.

Memang tidak bisa kita generalisir semua seperti itu. Adapula kelompok-kelompok yang melewatinya dengan cara yang berbeda seperti beberapa organisasi kemahasiswaan yang saya kenal yang merayakannya dengan berdoa bersama. Bahkan saya lihat di media, sebagian kelompok membuat majelis zikir dan pengajian tepat dimalam tahun baru. seperti yang pernah dilakukan oleh almarhum Habib Munzir. Nah, cara inilah yang sebenarnya menurut saya lebih tepat dilakukan. Begitu pula, sudah seharusnya sebagai warga NW kita terus memegang teguh ajaran Maulanassyekh salah satunya yakni Lii’laikalimatillah, sehingga tentu kita tidak akan berpangku tangan apalagi mengamini aktifitas yang menghancurkan moral ummat tersebut, namun tentu mengedepankan sikap arif dan bijaksana dengan pendekatan kultural seperti contoh diatas bukan dengan sikap menghakimi apalagi sampai anarkis. Karena bukankah lebih baik memberikan solusi daripada menjustifikasi?

Memang hak setiap orang merayakannya dengan caranya sendiri, namun sebagai ummat Islam, sudah seharusnya segala tindakan kita sesuai dengan ajaran agama kita melalui masyaikh dan guru-guru kita. Jangan sampai euforia kita dengan tahun baru membuat kita menjadi pribadi yang merugi sebagaimana apa yang diungkapkan Allah dalam surat al-Ashr. Sebaliknya orang yang tidak merugi adalah ia yang senantiasa mengisi waktunya dengan amal sholeh. Oleh sebab itu, alangkah lebih bermaknanya tahun baru yang akan segera menghampiri kita jika kita menyambutnya dengan suka cita ibadah. Misalnya Jika kita tidak mengisinya dengan membaca al-Qur’an paling tidak kita isi dengan mendengar bacaan al-Qur’an, Jika kita tidak ikut menjadi jama’ah pengajian, ya setidaknya kita bisa menjadi penceramahnya, he. Jika kita tidak bisa melakukan kebaikan-kebaikan, setidaknya kita tidak ikut-ikutan melakukan keburukan. Wallahua’lam..

 

“Selama kita bisa memilih jalan yang baik kenapa memilih jalan yang tidak baik?”(TGB.DR.KH. M. Zainul Majdi MA).

 

Malang, 30 Desember 2016

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Hazairin Alfian

Mahasiswa

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1043115

    Pengunjung hari ini : 7
    Total pengunjung : 576440
    Hits hari ini : 447
    Total Hits : 1043115
    Pengunjung Online : 2