I

Artikel

Pemberdayaan Masyarakat Korban Bencana

Sabtu
12:50:10 31 Desember 2016

 

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Ruum : 41)

 

Berkisah tentang bencana alam memang tak pernah ada habisnya. Tahun berganti tahun selalu saja ada bencana yang datang menyapa. Gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, angin puting beliung, banjir, sampai dengan tsunami, satu persatu satu turut ambil bagian secara bergiliran untuk menimpa. Bagi umat beragama tentu meyakini bahwa semua bencana alam yang  terjadi itu adalah ujian dari Allah, atau mungkin teguran seperti tercantum dalam surat Ar-Ruum Ayat 41 di atas. Allah baru menampakkan sebagian dari akibat perbuatan manusia, agar menjadi renungan manusia, agar mencintai dan melestarikan alam serta tidak merusaknya.

Bencana alam yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini cukup mengejutkan kita. Banjir yang terjadi di wilayah Jawa Barat merendam ribuan rumah selama berhari-hari. Gempa bumi yang (kembali) melanda wilayah serambi makkah Aceh merobohkan ribuan rumah dan masjid. Dan yang baru saja terjadi banjir bandang menimpa wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat. Tidak terhitung kerugian yang ditimbulkan bencana bencana tersebut, kerugian secara materil berupa kehilangan harta juga korban jiwa. Kondisi tersebut tentu menimbulkan duka mendalam bagi saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana.

Namun satu hal yang patut kita syukuri bahwa, di tengah carut marut permasalahan bangsa dan krisis rasa saling percaya antar warga masyarakat, bencana yang terjadi seperti kembali mempersatukan kita. Sikap responsif, aksi cepat tanggap, dan kepedulian serta merta hidup dan bergerak untuk memberikan bantuan baik harta maupun tenaga. Dalam waktu yang singkat muncul aksi-aksi gerakan peduli dan penggalangan dana dari berbagai unsur masyarakat. Bantuan bermacam rupa mengalir kepada saudara-saudara kita yang menjadi korban. Hal ini menunjukkan simbol positif bahwa rasa persaudaraan kita antara sesama bangsa Indonesia masih sangat erat dan saling peduli. Namun, pada kesempatan ini penulis tidak ingin membahas hal tersebut secara mendalam, melainkan ingin melihat dari sudut yang berbeda yaitu pemberdayaan masyarakat korban bencana.

Pemberdayaan masyarakat secara sederhana dapat kita pahami sebagai upaya membantu masyarakat agar mempunyai daya untuk bangkit dan bertahan hidup. Meminjam istilah umum yang sering digunakan para pekerja sosial yaitu helping people to help them selves. Dalam konteks bencana alam di Jawa Barat, Aceh, dan NTB, masyarakat yang menjadi korban harus dipulihkan kondisinya. Baik secara mental psikologi, kondisi sosial, juga perekonomian. Hal tersebut dimaksudkan agar para korban dapat kembali menjalani hidup yang normal seperti saat sebelum bencana menimpa.

Mengalirnya bantuan untuk korban bencana dari berbagai pihak patut untuk diapresiasi. Kondisi para korban yang baru saja kehilangan harta benda ketika bencana terjadi harus mendapatkan dukungan logistik yang memadai untuk bisa bertahan hidup. Satu hal yang penting diperhatikan bahwa bantuan berupa materi itu semestinya hanya diberikan pada saat bencana sampai pada fase rehabilitasi. Agar tahapan-tahapan selanjutnya untuk langkah pemberdayaan bisa dilakukan. Artinya bantuan materi diberikan untuk menguatkan para korban pada masa kritis bukan menjadi sarana penghidupan. Sebab bantuan yang diberikan secara terus menerus tanpa ada langkah pemberdayaan bukan membawa manfaat justru akan menjadi racun yang menjadikan masyarakat ketergantungan dan terus menerus tidak berdaya.

Maka menjadi penting kemudian  dilakukan pendampingan kepada masyarakat untuk mulai memperbaiki kondisi mental dan sosial serta mengarahkan bantuan-bantuan berupa materi untuk menggerakkan kembali perekonomian masyarkat. Dengan begitu maka suatu saat ketika akses bantuan tidak lagi masuk ke wilayah terdampak bencana masyarakat sudah bisa survive menjalani hidup sehari hari tanpa tergantung dan mengandalkan bantuan orang lain.

Kesalahan yang seringkali terjadi baik dari pemerintah maupun para relawan dari barbagai komunitas dan unsur masyarkat, aksi yang dilakukan ketika terjadi bencana hanya terfokus pada aksi spontanitas dan kurang terencana. Program selesai ketika telah tuntas dilakukan pemberian dan penyaluran bantuan sampai pada fase rehabilitasi. Sampai fase rehabilitasi kondisi dianggap pulih kemudian masyarakat korban bencana ditinggal tanpa ada jaminan kepastian bahwa mereka sudah bisa mandiri. Tidak masalah jika masyarakat korban bencana sudah bisa mandiri, namun masalah akan muncul jika masyarakat belum siap ditinggalkan dalam kondisi tersebut. Maka sebagai langkah solutif, sudah semestinya pemerintah bersama unsur komunitas dan LSM mejalin kerjasama merancang program pemulihan dan pemberdayaan kepada masyarakat korban bencana secara tepat dan berkelanjutan. Sehingga terjadinya bencana alam juga tidak menimbulkan masalah-masalah sosial baru dalam masyarakat.

Pembelajaran penting juga dari berbagai kasus bencana alam yang terjadi harus menjadi renungan bersama. Bencana yang datang menimpa tidak terjadi tanpa sebab, melainkan akibat campur tangan manusia yang sewenang-wenang memperlakukan alam. Maka hal yang perlu dilakukan, mulai sekarang mari kita cintai alam, cintai bumi tempat tinggal kita sendiri. Wallahu’alam. []

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Asror MZ

Seekor burung kecil yang baru belajar mengepakkan sayap

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1094813

    Pengunjung hari ini : 21
    Total pengunjung : 577861
    Hits hari ini : 625
    Total Hits : 1094813
    Pengunjung Online : 1