I

Artikel

TGB dan Salah Sasak Mengandung

Rabu
18:13:28 04 Januari 2017

Sebenarnya, di kalangan tertentu dan kelompok masyarakat yang terbatas pula, perbincangan tentang TGB yang berharap meluaskan langkah politiknya sudah berhembus. Situasi ini semakin mengencang ketika TGB banyak diundang di tingkat nasional maupun internasional sebagai intelektual, pakar dalam ilmu tafsir, dan sebagai figur yang berhasil mengkombinasikan paradigma ukhrawi dengan tata kelola duniawiyah politik. Citranya sebagai tokoh daerah dan pemuka agama di tingkat lokal pun terangkat seiring televisi nasional, lembaga pemerintah, organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, dan perhimpunan mahasiswa mengundangya secara bergantian sebagai ilmuwan. Lambat laun, TGB sebagai kata lokal menjadi kata yang populer mengikut orang yang melekat di dalam kata tersebut. Lidah, Samawa, Mbojo, Bali, Batak, Sunda, Jawa, Dayak, Bugis, Madura, Betawi, Melayu, Flores, Aceh, hingga Papua menjadi fasih melafazkan kata TGB sebagaimana kefasihan orang Sasak sebagai asal kata dan orang yang di dalamnya.

TGB sebagai sebuah fenomena identitas, budaya sekaligus politik kewilayahan. Karena ia lahir dari daerah pinggiran, satu daerah yang selalu ditempatkan sebagai subordinat oleh pusat, daerah yang dalam catatan sejarah kaum pemenang hanya sebagai kaum terjajah, bermental budak, dan selalu bernasib miskin. Lombok hanya dikenal cabainya olah hampir semua orang Indonesia. Bahkan, bukan TKI namanya jika bukan Lombok. Satu citra yang seakan hanya pantas didapatkan oleh Lombok nan terbelakang dan miskin itu. Satu keadaan yang berbeda apabila dibandingkan dengan Sumbawa (Samawa dan Mbojo) di tingkat pusat, yang namanya moncer seiring sejarah dan tradisi watak rantau penakluk yang dilekatkan kepada Samawa Mbojo. Maka, karena TGB sebagai representasi identitas, budaya, dan politik kewilayahan itulah, ia dapat dikatakan sebagai fenomena. Dampaknya, beberapa 2 waktu orang luar segera melakukan koreksi pandangan mereka kepada Lombok. Mereka seakan tidak percaya bahwa TGB orang Lombok karena yang ditahu, Lombok hanya melahirkan budak. Jika pun Lombok bagian yang tidak terpisahkan dalam pembentukan budaya Betawi, misalnya, tetapi datang sebagai tumbal kekuasaan Karangasem Bali di Mataram kepada Batavia. Orang Lombok datang sebagai budak ke Batavia. Dan kini, Indonesia melihat TGB datang sebagai orang Lombok bukan budak, melainkan orang yang menciptakan opini nasional dan mengubah citra muasalnya.

Terlepas dari semua representasi yang melekat pada diri TGB, munculnya petisi yang mendorong TGB menjadi presiden RI masa mendatang ialah sesuatu yang mengejutkan. Bincang ringan orang-orang di luar sana, semula dipandang sebagai penghargaan subjektif, tetapi rupanya perbincangan tersebut ialah embrio tindakan yang mengagetkan tersebut. Dukungan petisi tersebut tidak menghitung minggu, dalam satu dua hari saja meningkat dengan cepat. Hal ini mengejutkan karena apabila dilihat dari nama pembuat petisi tersbut, ia tampak tidak memiliki hubungan identitas, budaya, dan politik teritori dengan TGB. Melihat alasannya pun mengesankan objektivitas karena ia mengkomparasikan keadaan Indonesia dengan latar belakang TGB, yang baginya memiliki kesesuaian dengan sejumlah isu moralitas dan ideologi yang berkembang di Indonesia saat ini. Menariknya, petisi tersebut dibuat dalam dua gerakan yang sama-sama mencerminkan ketiadaanhubungan erat dan langsung dengan TGB. Di samping itu, mengejutkan karena petisi tersebut berkembang awal tidak di daerah asal TGB.

Munculnya TGB karena orang lain, bukan karena orang sendiri sebenarnya dapat dipahami sebagai kode etik orang Timur. Tidak baik mendorong orang sendiri. Namun masalahnya tidak sesederhana itu. Menjadi memalukan apabila dorongan dilakukan secara terbuka dan asal-asalan serta orang yang didorong tidak memiliki kemampuan. Dalamhal ini, orang Lombok patut belajar pada bangsa superior macam Jawa, Bugis, dan Batak. Mereka mendorong orangnya dengan menggunakan sistem dan strategi yang tidak memperlihatkan 3 kehendak. Kehendak dipermak menjadi sistem negara atau kekuaasan kemudian program dan kegiatan dijadikan sebagai strategi. Tiba-tiba seorang walikota menjadi gubernurlalu menjadi presiden ialah sistem dan strategi Jawa. Sebagai sebuah sistem, Jawa menjelma secara halus ke dalam strategi yang lembut sehingga tanpa orang sadari, Jawa diterima sebagai yang pantas mengindonesia. Media tak ada hubungannya dengan walikota, tetapi menjadi berhubungan erat karena mereka berada dalam satu sistem yang sama, yakni Jawa. Berita di Solo tak ada hubungan dengan Indonesia tetapi menjadi simbiosis mutualistik ketika bertemu dalamsrategi bernama Jawa. Begitulah seterusnya.

Untuk itulah kenapa tidak menjadi sederhana karena orang Lombok tidak dapat meletakkan TGB sebagai sistem dan strategi. Ketika publik nasional dan internasional memberikan penghargaan kepada TGB, orang Lombok, dalam hal ini, Sasak hanya dapat membagi tepukan. Penghargaan tersebut hanya ditonton kemudian melipatnya hanya menjadi catatan. Bukan sebagai pemantik lahirnya ide dan gagasan yang tersistem. Bagi orang Jawa, pasti TGB ialah momentum melahirkan penerus kekuasaan. Sedangkan bagi orang Sasak, TGB hanya barang pajangan yang berfungsi sebagai penghias mulut dalam cerita ke anak cucu. Inilah persoalan itu. Ini bukan soal teruwujud atau tidaknya petisi tersbeut. Juga bukan soal menang atau kalah. Tapi ini soal keberanian dan kemampuan mengambil peran dalam arena pada sebuah momentum bernama TGB. Ini juga bukan soal suka atau tidak suka kepada TGB, tetapi ini tentang sistem dan strategi juga tentang politik identitas dan kebudayaan. Bukan Jawa satu suara dalam figur tertentu. Mereka pun bergaduh, tetapi kegaduhan mereka lakonkan dalamsatu sistemdan strategi yang sama, yakni Jawa.

TGB sebagai momentum bukan menggiring semua orang Sasak patuh, taat, dan suka senang kepada TGB karena rasa suka dan tidak suka ialah qudratiyah manusia. Namun TGB sebagai momentum hendak memancing kesadaran identitas, budaya, dan politik teritori orang Sasak, di mana untuk mencapai semua itu, orang Sasak dituntut berpikir dan bersikap terbuka. Bukan untuk koor satu suara mengatakan bahwa TGB adalah orang paling hebat, 4 orang paling alim, namun untuk menunjukkan bahwa ini ialah momentum TGB. Bukan momentum semua orang Sasak. Karena ini ialah momentum TGB, maka orang Sasak hebat, alim, dan kuat kuasa lainnya diperlukan berlapang dada untuk masuk ke dalam sistem momentum TGB dan secara bersama menggunakan TGB sebagai strategi. Tujuannya ialah untuk melayarkan identitas, budaya, dan politik teritori orang Sasak ke samudera dunia lebih luas sehingga bukan hanya TGB yang bergerak sendiri membongkar citra inlander Sasak, melainkan Sasak sistem dalam strategi Sasak. Lihatlah Jawa sana, berjuta-juta orang hebat, tetapi tidak semua orang Jawa hebat itu yang mempunyai momentum. Karena hanya satu orang Jawa yang sedang mendapatkan momentum, maka Jawa hebat lainnya mengambil peran sebagai kesatuan sistem, bergerak dalam kesatuan strategi. Setelah kemenangan didapatkan, baru mengkonsoslidasikan barisan tanpa harus semua Jawa menjadi kawula kekuasaan. Inilah yang dimaksudkan dengan momentumTGB itu.

Lebih jauh lagi, munculnya petisi TGB menjadi presiden RI di masa depan ini menjadi alarm bagi Sasak masa depan. Bagaimana tidak? Momentum orang Sasak mendapatkan tempat staregis secara nasional dan internasional tidak akan datang berkali-kali. Jika pun muncul lagi, bisa jadi tidak dalam waktu yang berdekatan. Dalam catatan sejarah perdagangan, misalnya, sebagaimana yang dikemukakan I Gde Parimartha dalam bukunya yang berjudul “Perdagangan dan Politik di Nusa Tenggara 1815-1915”, Lombok sebagai salah satu pusat sirkulasi perdagangan dunia. Kemajuan perdagangan ini pula yang di satu sisi menguntungkan Karangasem Bali di Mataram menjadi kerajaan yang kuat dan pada sisi lain menimbulkan nafsu Hindia Belanda menguasai Lombok. Fase ini ialah momentum bagi orang Sasak untuk menguatkan politik perdagangan sehingga tidak menjadi budak selamanya hamba sahaya, namun momentum ini dibiarkan menjadi fase kelam orang Sasak. Hal ini dapat dipahami karena keadaan orang Sasak yang terjajah. Lihatlah selepas itu, muncul orang Sasak hebat, khususnya dalam ilmu agama, yang diakui oleh ulamak dunia, tetapi orang Sasak kembali abai. Kehebatan Tuan Guru Umar Kelayu, Tuan Guru Saleh Hambali 5 Bengkel, Tuan Guru Pancor, tidak juga dijadikan pemantik bagi orang Sasak untuk keluar dari citra budak karena pada akhirnya hingga zaman orde baru pun orang Sasak hidup dan bernapas dalambayang-bayang kekuasaan kaumsuperior.

Era ini Tuhan kembali berbaik hati dengan memberikan momentum TGB. Namun alarm ini akan semakin berdering nyaring apabila orang Sasak masih belum siuman dari watak budak tani yang hidup di lahan subur, tetapi yang menikmati kesejahteraan hidup ialah para pedagang dari luar. Bisa jadi, ini ialah alarmkali terakhir dan akan muncul ratusan tahun lagi jika, pertama, orang Sasak masih terkotak-kotak secara tidak sehat ke dalam pengeritik dan penyokong TGB. Kedua, orang Sasak hanya melihat bahwa TGB ialah orang NW sehingga ia hanya pantas layak menjadi tokoh di organisasinya dan dipandang menjadi orang lain di organisasi kemasyarakatan yang berebeda. Padahal, di luar sana, TGB ialah tokoh yang diterima secara nasional. Ketiga, orang Sasak hanya melihat TGB sebagai orang Lombok Timur, bukan sebagai orang Lombok. Dengan kata lain, orang Sasak masih terpatri keras pada peninggalan penjajah laknat yang memecah belah Lombok dengan mengembangkan konflik teritori.

Keempat, TGB hanya dilihat sebagai bukan bangsawan sehingga kaum menak Sasak berkecil hati, tidak merasa terhormat mengambil peran dalam momentum TGB, atau merasa rendah kasta ketika mendukung kasta yang tidak sama. Sungguh zaman halal lepanglah Sasak ini jika terus-menerus melingkari diri dalam sematan jajar karang dan menak. Padahal sematan ini telah terbukti meletakkan derajat Sasak sebagai budak ratusan tahun. Kelima, TGB masih dipandang sebagai bukan represenatsi kebudayaan Sasak karena latar belakangnya seorang tuan guru. Sungguh gelaplah masa depan Sasak jika masih berasyik ria mengkamarkan diri ke dalam mana tuan guru mana budayawan karena pada bangsa superior, kebudayaan dan agama telah dilekatkan menjadi kesatuan utuh untuk mengekalkan superioritas mereka.

Selain sebagai alarm, petisi TGB presiden RI masa depan yang disuarakan pertama 6 oleh bukan orang Sasak telah benar-benar menampar wajah kesasakan karena selain menunjukan bahwa orang Sasak pun bisa luar biasa juga mempertontonkan coreng bopeng watak asas orang Sasak. Sebagai kaum yang terbentuk dari sejarah kelas yang direndahkan, secara umum orang Sasak belum berhasil move on. Kebudakan mereka hanya dijadikan tangisan, belumdijadikan sebagai landas pacu untuk mengangkasakan mimpi. Terutama yang dimaksudkan ialah mimpi Sasak bersama. Boleh jadi, sebagian orang Sasak sudah ada yang berani bermimpi sebagaimana mimpi yang diteorikan oleh Sigmund Freud, yakni sebuah keinginan yang mengalami hambatan psikologis dan historis muncul dalam dunia nyata. Namun yang amat diperlukan ialah mimpi sosial yang mampu menjadi gerakan sosial kesasakan.

Tampaknya, hal tersebut di atas boleh juga sedikit memberikan jawaban kenapa orang Sasak tidak juga mampu menangkap peluang kesasakan pada momentum TGB ini. Akibatnya, momentum TGB ditangkap oleh orang lain yang secara genetis historis memiliki watak superior. Boleh jadi mereka merasa geregetan kenapa TGB bukan orang yang seasal dengan mereka dan semakin murka manakala mereka melihat respons orang Sasak yang terbawa arus inferioritas. Untuk itu, selain orang Sasak memiliki kewajiban move on, mereka juga harus memiliki keyakinan bahwa momentum TGB ini ialah pintu masuk menuju kasta nasional. Setidaknya berdampak pada perubahan cara pandang dunia terhadap orang Sasak.

Akhirnya, sadarlah orang Sasak sebelum momentum TGB ini benar-benar hilang dan sejarah mencatat bahwa bukan silap TGB melainkan salah Sasak yang mengandung.

-----------------------------------

Penulis: Dr Salman Alfarisi (Dosen Fakulti Muzik dan Seni Persembahan UPSI Malaysia)

Sumber: Lombok Post Cetak Edisi Rabu, 04 Januari 2017

Sumber foto: suarantb

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Suara NW

Akun Resmi Suara NW yang Dikelola oleh Admin.

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1041049

    Pengunjung hari ini : 6
    Total pengunjung : 576380
    Hits hari ini : 1409
    Total Hits : 1041049
    Pengunjung Online : 1