I

Artikel

Klinik Aisyiyah di Dekat “Ibu Kota” NW

Sabtu
22:25:18 14 Januari 2017

Ada pemandangan menarik hari ini ketika saya melewati Tanjung. Bendera Muhammadiyah dan Aisyah berjejer rapi di sepanjang jalan. Tidak jauh dari sana terdapat sebuah gedung yang bertuliskan Klinik Aisyiah Tanjung dan ternyata cukup ramai orang berkumpul di sana. Senang dan kesal langsung menyelimuti suasana hati saya. Senang karena ada sebuah lembaga kesehatan yang menjawab kebutuhan masyarakat di sana. Kesal karena mengapa justru bukan NW yang membangun klinik kesehatan tersebut. Padahal Tanjung hanya terletak beberapa kilometer dari “Ibu Kota” NW.

Perasaan kesal dan keperihatinan itu terus menyertai saya dalam perjalanan menuju Mataram. Kekesalan semakin memuncak ketika  sepanjang jalan saya menemukan sebuah foto yang tidak lain tidak bukan adalah “pewaris” gubernur sekarang ini. Ketika Muhammadiyah meresmikan lembaga kesehatannya justru di saat yang sama NW sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan calon yang ia usung dipertarungan NTB 1 kali ini.

Tanpa menutup mata dengan segala hal yang telah dilakukan NW, namun dalam kasus ini saya betul-betul merasa sedih dan kecewa. “mengapa bukan NW?”. Jika melihat kuantitas jamaah NW di Lombok dapat dikatakan justru NW memiliki tanggung jawab sosial yang jauh lebih besar kepada masyarakat Lombok dibandingkan Muhammadiyah yang jama’ahnya sedikit. Bagaimanapun juga pemenuhan kebutuhan lembaga kesehatan masyarakat merupakan pertanggung jawaban moral dan sosial NW sebagai Ormas terbesar di NTB. Lagi lagi saya ingin tekankan seperti tulisan sebelumnya, Islam tidak melulu mengenai “langit’ saja, Islam juga berbicara mengenai “bumi” atau ranah social ummatnya. Bahkan secara substansial, Islam diposisikan sebagai agama ke-Tuhanan sekaligus agama kemanusiaan dan agama kemasyarakatan (Qs Ali Imran:112). Bahkan dalam sejarahnya pun NW sejak lama telah mengabdi dalam ranah social kemasyarakatan. Lah sekarang seolah-olah tereduksi karena kontestasi politik terlebih saat-saat pilkada.

Sehingga yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah, dimana letak keberpihakan NW. Apakah saat ini hanya menjadi alat politik yang mengakomodir kepentingan elit NW atau justru memang berpihak terhadap ummat sebagaimana yang “diwariskan” pendirinya? Ah sudahlah, saya tak mau menjawab pertanyaan ini. Toh palingan juga saya akan dicap “noak” atau bahkan tak tahu diri jika menyinggung hal tersebut. Biarkan saja itu menjadi renungan kita bersama sebagai anak-anak yang lahir dari rahim NW.

Kemudian renungan kedua yang layak untuk kita renungkan bersama adalah, Teologi Alma’un. Teologi ini sangat terkenal dilingkungan Muhammadiyah bahkan telah diideologisasikan dan  menjadi landasan gerakan Muhammadiyah sampai sekarang, Hal ini tercermin dalam pilar kerja Muhammadiyah yakni pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelayananan social. Inti dari teologi Al-Ma’un  yang berkembang dilingkungan Muhammadiyah adalah Ibadah ritual tidak akan berarti tanpa melakukan amal social. Bahkan dengan tegas dijelaskan dalam Alma’un bahwa orang yang mengabaikan anak yatim dan orang miskin sebagai pendusta agama. Jadi sebetulnya bukan justru Muhammadiyah saja yang “wajib” memberikan pelayanan kesehatan, NW juga perlu bahkan sangat-sangat perlu.

Apa yang ingin saya sampaikan adalah, sudah saatnya NW kembali kepada khittahnya sebagai organisasi yang sudah lama bergerak di berbagai bidang salah satunya bidang social yang sudah mulai terlihat kabur penekanannya. Hal yang cukup urgent dalam hal ini adalah pemenuhan kebutuhan kesehatan masyarakat. Banyak sekali desa-desa yang sangat membutuhkan keberadaan lembaga kesehatan. Hal semacam ini tidak bisa sepenuhnya, diserahkan ke pemerintah, NW sebagai lembaga keagamaan terbesar harusnya bisa mengambil bagian dalam hal ini. Dalam kajian pluralism kesejahteraan misalnya, dijelaskan bahwa pentingnya pembagian peran antara negara, pasar dan masyarakat sipil dalam menjunjung terwujudnya kesejahteraan. Ketiganya dapat saling menopang untuk mewujudkan kesejahteraan itu sendiri. Sehingga secara pendekatan agama ataupun posisinya sebagai CSO secara tidak langsung NW berkewajiban untuk mendirikan lembaga kesehatan juga. Jangan mau kalah dengan Muhammadiyah, bukan dalam arti tendensi atau apa, toh agama juga mengajarkan kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

 

Salam.

*Tulisan ini dibuat dalam posisi ngantuk dan pegal setelah balik dari Mataram, tentu banyak kekurangan, kritik dan saran sangat nanti. Selamat berdiskusi.

 

 

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Rifki Maulana I.T

Merupakan alumni MTs Muallimin NW Pancor. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dapat di hubungi melalui email : rimaiqta@gmail.com

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1043118

    Pengunjung hari ini : 7
    Total pengunjung : 576440
    Hits hari ini : 450
    Total Hits : 1043118
    Pengunjung Online : 2