I

Artikel

JIKA TIDAK BISA BERDAMAI ATAS NAMA NW, SETIDAKNYA BERDAMAI ATAS NAMA TAUHID

Jumat
20:59:24 03 Maret 2017

Ada yang menarik dalam peringatan berdirinya NW tahun ini. Acara yang bertajuk Nusantara Berhizib ini saya yakin akan mampu menyedot perhatian banyak orang. Pemilihan nama ini juga bisa jadi sebagai penegasan bahwa NW sejatinya telah tersebar secara nasional. NW bukan lagi organisasi lokal yang hanya berkembang di Lombok, namun telah memiliki diaspora yang tersebar diberbagai penjuru negeri.Saya sejujurnya simpatik dengan acara tersebut namun setelah mendengar video yang beredar sungguh amat disayangkan. Ternyata hingga detik ini momen peringatan berdirinya NW selalu gagal mengantarkan kita pada dimensi reflektif tentang NW itu sendiri. Reflektif dalam arti mengenang dan menginternalisasi perjuangan Sang Maulana namun justru menjadi momentum penegasan terhadap siapa yang benar dan salah dan penegasan atas NW (ku) dan NW (mu). Parahnya lagi wacana ini justru dimapankan oleh elit NW itu sendiri. Padahal dalam tatanan grass root dan kaum Muda NW perdebatan ini hampir usai. (meskipun di grup DCNW masih saja berlangsung)

Saya tak bermaksud sok bijak apalagi menceramahi, hanya saja ini merupakan jeritan hati saya sebagai orang yang tumbuh di lingkungan NW. Apa sepantasnya seorang panutan dalam setiap pidatonya selalu saja berisi tentang ‘AKU BENAR dan KAMU SALAH’? Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, tidak bisakah kita memberikan contoh yang baik terhadap jamaah, setidaknya atas nama kebaikan bersama atau bahkan atas nama agama yang sangat menekankan pada persaudaraan dan persatuan.

Jika elit NW terus saja seperti itu apakah ini mengindikasikan bahwa persatuan NW hanyalah hal yang utopis? Maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa status kita sebagai NAHDLIYIN justru membuat kita gagal dalam melihat perbedaan. Maka cukuplah Tauhid yang menjadi jawaban terhadap kegagalan tersebut. Bagaimanapun juga Tauhid merupakan elemen yang paling inti dalam Islam karena ia merupakan ruh substantif dari Islam.

Inilah kemudian yang harus kita tegaskan. Kita memiliki ketauhidan yang sama, menyembah Tuhan yang sama maka kesamaan ini sejatinya lebih dari cukup untuk membawa kita dalam ikatan persaudaraan. Betul bahwa kita berbeda dalam hal organisasi akan tetapi secara prinsip kita memiliki semangat teologis yang sama. Maka dari itu mari kita melihat kembali inti dari Islam itu sendiri dan melihat persamaan satu sama lain. Cukuplah kita berdebat mengenai perbedaan organisasi. Karena jika kita selalu melihat perbedaan maka hal inilah yang akan membuat kita gampang menyalahkan satu sama lain. Memang organisasi Ku dan organisasi Mu berbeda, tapi setidaknya kita dilandaskan oleh sebuah nilai yang sama yakni Ketauhidan. Salam!

 

Catatan: Tambahan dari status saya sebelumnya

 

Islam sebagai sebuah sistem setidaknya tersusun atas dua elemen dasar yang kemudian terfusikan menjadi satu entitas tunggal. Elemen pertama adalah adalah doktrin atau kredo yang bersifat dogamtis dan elemen selanjutnya adalah peradaban (praktik, ekspresi) yang bersifat historis dan kontekstual. Elemen pertama merupakan inti dari Islam itu sendiri, karena ia merupakan ruh substantif dari Islam. Tanpa hal ini, islam sebagai agama tidak akan berarti apa-apa. Sementara elemen yang kedua merupakan elemen permukaan yang kasat mata, dapat diamati dan sangat terkait dengan konteks ruang dan waktu. Dari segi doktrinal, Islam mambawa pesan-pesan transdental yang bersifat permanen namun ketika ia sampai pada tatanan praksis dengan segala interpretasi ummatnya, maka Islam menjelma menjadi beragam bentuk. Keberagaman interpretasi dan persepsi inilah kemudian yang membentuk peradaban Islam yang sangat heterogen, dinamis dan berdimensi ruang dan waktu. Faktor kedua inilah kemudian yang membentuk identitas Islam secara sosial, politik dan kultural menjadi beragam. Namun, meskipun berbeda hal yang harus digaris bawahi adalah secara prinsip (core element) memiliki semangat teologis yang sama. Dengan demikian Islam haruslah dilihat sebagai sistem yang dialektis yang meliputi identitas dan relitas. Selama ini kita terkungkung dengan element kedua, sehingga dengan gampang menyalahkan satu sama lain, atau bahkan mengkafirkan satu sama lain. Mari berdamai dengan perbedaan (Islam) dengan semagat ketauhidan.

 

Refrensi: Lestari. 2011. ”Islam Sasak: Paradigma Lokalisme sebagai Fondasi Artikulasi Islam Masyarakat Sasak”, dalam Daud Gerung (Ed.). 2011. Lombok Mirah Sasak Adi. Jakarta: Imsak Press.

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Rifki Maulana I.T

Merupakan alumni MTs Muallimin NW Pancor. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dapat di hubungi melalui email : rimaiqta@gmail.com

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1043142

    Pengunjung hari ini : 7
    Total pengunjung : 576440
    Hits hari ini : 474
    Total Hits : 1043142
    Pengunjung Online : 1