I

Artikel

(Menjadi) Nahdliyyin yang Transformatif

Senin
01:31:14 20 Maret 2017

Saya sangat senang malam ini bertemu dengan teman di Mts Muallimin dulu. Tak terasa dari selepas Sholat Asar hingga jam 10 malam kami ngalor ngidul. Banyak hal yang kami bicarakan dan tentu saja termasuk NW di dalamnya. Kira-kira 75% dari total pembicaraan kami adalah tentang NW. Mulai dari NW yang begitu anti-critic dan oligarkis hingga fenomena “elit NW yang itu itu aja”__ yang akan bertarung di Pilkada tahun depan. Ini bukan masalah kami NOAX, tapi lebih kepada kecintaan kami kepada NW, sebuah pandangan dan harapan akan NW yang lebih baik. NW yang tidak lagi berkutat pada perdebatan tentang perbedaan, tapi NW yang melaju jauh untuk kemaslahatan ummat. NW fastabiqul khairot.

Harus diakui bahwa saat ini, kita masih berkutat pada peredabatan yang tak kunjung usai. Bisa jadi sepertiga, sepertengah atau bahkan seluruh hidup kita sebagai Nahdliyyin masih terjebak dalam perdebatan ini. Saya yang hanya anak kemarin sore, sejak kecil sudah mengkonsumsi perdebatan ini, bahkan hingga sekarang. Merantau membuat saya berfikir kembali tentang makna menjadi Nahdliyin yang sebenarnya. Mencoba terlepas dari “kulit luar” dan menutup “ketelanjangan”. Saya merasa bodoh ketika harus menghabiskan hidup saya untuk memperdebatkan sesuatu yang tidak ada manfaarnya untuk diri saya. Memang hal yang sangat wajar subjketivitas itu ada, tapi kita punya pilihan untuk melampaui subjektivitas itu sendiri untuk mengarah ke hal yang lebih substantif.

Menjadi Nahdliyin harusnya mampu membawa kita pada dimensi pembebasan bukan justru terkungkung dalam perdebatan. Saya masih ingat betul pesan Hamzanwadi dalam lagunya tentang Sakit Jahil dan menawarkan solusi untuk belajar mengaji. Terkait hal ini jangan jangan makna “jahil” secara tersirat merujuk pada orang yang selalu berdebat, sembari merendahkan saudaranya. Mungkin orang-orang semacam ini harus mengaji kembali, biar terbebas dari kejahilan.

Sejatinya NW itu SATU bahkan hingga sekarang SATU. Betul secara organisasi NW saat ini terpecah, namun secara socio-cultural NW tetap satu. Sebut saja Hizib, hingga detik ini Hizib NW Pancor dan Anjani itu sama. Tidak ada ceritanya Jamaah NW Anjani mendahulukan membaca Muhammadun terus membaca Yasin atau Jamaah NW Pancor membaca Isytaddi terus membaca Sholawat Fatih. Kemudian secara tafsir keagamaan kita sama, bermanhaj Ahlussunnah Wal Jamaah, bermazhab Imam Syafi’i. Pada dimensi inilah kemudian harusnya menjadi titik temu untuk menyatukan pandangan dan mempererat persaudaraan. Bukan justru merujuk pada NW secara organisatoris yang ujung-ujungnya membuat kita terus begejuh. Untuk urusan organisasi kita biarkan saja para elit yang mengurus hal tersebut. Toh meneriakkan persatuan belum tentu berpengaruh terhadap mereka.

Lalu apa makna menjadi Nahdliyin yang transformatif? menurut hemat saya kita melepas diri dari “kulit luar” itu tadi. Sudah saatnya kita berfikir revolusioner, membebaskan diri dari pemahaman yang sangat determinis. Sembari bergerak menjadikan NW sebagai pusat gerakan revolusioner, sebagai organisasi yang hadir untuk kemaslahatan ummat. Sebagai wadah untuk berfastabaqul khairat. Jika kita masih berdebat dengan kulit luar NW, lalu kapan kita akan berbicara mengenai tafsir renungan masa atau bahkan berbicara mengenai Rumah Sakit NW serta ide die brillian yang lain?

Secara organisasi pun NW juga harus bertranformasi. Sudah saatnya NW tidak haya berkutat pada wacana keagamaan semata. NW harus melangkah jauh menjadi pembebas ummat (baca: Nahdlyyin) yang tertindas. Ummat sekarang tidak hanya butuh siraman rohani, namun juga butuh “siraman jasmani”. Fenomena Kemiskinan dan ketimpangan di Lombok Timur harusnya menjadi perhatian NW pula. Saya membayangkan jika suatu saat nanti NW menjadi pusat ekonomi ummat dan menjadi pembebas atas kedua masalah tersebut. Ada suatu cerita menarik dari teman saya tadi, tentang neneknya yang “mencoba” menjadi Wahabi karena Wahabi gencar memberikan bantuan “sembako” kepada jamaahnya, nah justru dengan sembako itu mereka semakin di lirik oleh jamaah. Jika NW terus sibuk begejuh bisa jadi justru Wahabi yang akan mendominasi peta keagamaan di Lombok Timur[1]. Namun jelas saya pribadi menolak cara charity ala Wahabi tersebut, ummat harusnya di kasi KAIL untuk mancing bukan sekedar di kasi ikan saja, nanti malah ummat jadi manja dan mentalnya menjadi peminta. Tapi poinnya adalah NW harus berorientasi ummat. Jangan sampai menyebut ummat, mengelukan ummat ketika masa Pilkada saja.

Kemudian sudah saatnya pula NW terbebas dari pusaran oligarki yang sedemikian akut. Semoga hasil kerja sama yang terjalin dengan Muhammadiyah dan NU membawa NW menjadi lebih demokratis (belajar dari kedua organisasi tersebut). Paling tidak memberikan kesempatan putra terbaiknya untuk menempati posisi strategis bukan justru malah hanya diisi oleh sanak family[1]. Sudah saatnya mengedepankan kualitas dan profesionalitas diatas garis keturuan. Jika kursi PBNW tidak untuk non keturuan Hamzanwadi, ya paling tidak posisi  rektor  diserahkan ke orang yang kompeten. Namun bukan berarti rektor sekarang tidak kompeten, jelas mereka memiliki kualitas yang baik, saya tidak mergukan kemampuan rektor yang di Anjani ataupun Pancor saat ini, namun almaksud untuk masa yang akan datang. Sehingga kedepannya tercipta NW yang berorientasi pada kemajuan dan menjadi jawaban terhadap permasalahan ummat.

 

Keh silaq tepade renungan bareng


[1] Saya memiliki senior lulusan master di UIN Sunan Kalijaga. Dia memiliki pandangan dan kompetensi yang luar biasa. Bahkan saya berharap dia menjadi the next Tuan Guru Bajang atau bahkan PBNW.


[1] Dalam batas batas tertentu saya mencurigai jika semakin bertambahnay jamaah wahabi salah satunya disebabkan oleh elit NW yang tak kunjung berdamai, dilain sisi wahabi menawarkan semangat teologis yang baru yang diikuti dengan janji kesejahteraan.

 



Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Rifki Maulana I.T

Merupakan alumni MTs Muallimin NW Pancor. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dapat di hubungi melalui email : rimaiqta@gmail.com

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1094805

    Pengunjung hari ini : 21
    Total pengunjung : 577861
    Hits hari ini : 617
    Total Hits : 1094805
    Pengunjung Online : 1