I

Artikel

Sejarah Pencantuman Ash-Shaulatiyah dalam Hizib Nahdlatul Wathan

Kamis
17:00:16 30 Maret 2017

Setelah disusun pertama kali pada sekitar tahun 1943 (zaman penjajahan Jepang), Hizib Nahdlatul Wathan terus berdengung dimana-mana. Tak hanya tersiar di wilayah Lombok, bahkan di luar Daerah dan mancanegara.

Tahun 1979 pertamakalinya Hizib dibaca resmi di Madrasah Ash-Shaulatiyah Makkah Al-Mukarromah. Mudir Ash-Shaulatiyah pada saat itu Syaikh Mas'ud Salim Rahmatullah terkagum dengan keindahan susunan do'a yang ditata oleh Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Majid ini, namun ada yang menjanggal di hatinya. Melihat sejumlah do'a dikhususkan untuk Nahdlatul Wathan saja, beliau terpikir alangkah baiknya jika Ash-Shaulatiyah tercakup dalam doa hizib yg dibaca oleh ribuan Nahdliyyin.

Walaupun memiliki otoritas, tuan rumah Ash-Shaulatiyah itu tidak sembarang menambah redaksi sebagaimana terpendam dalam hatinya. Beliau mengirim surat permintaan ke Syaikh Zainuddin utk menambahkan dua kata saja yaitu:

ولا إلى الصولتية إن شاء الله

Di satu tempat saja, yaitu pada bagian:

أعداؤنا لن يصلوا إلينا بالنفس ولا بالواسطة... الخ

Pada zaman itu, butuh berbulan-bulan sirkulasi surat berjalan dari Makkah ke Lombok. Tiga bulan kemudian, Syaikh Mas'ud menerima surat balasan, permintaan itu tentu diperkenankan oleh Maulana Syaikh lebih "ablagh" dari permintaan semula, yaitu:

ولا إلى الصولتية برحمة الله

Orang yg memiliki cita rasa Bahasa Arab, akan tahu perbedan "Rahmah" dan "Masyi'ah". Tidak itu saja, secara keseluruhan, kata Ash-Shaulatiyah terulang empat kali dalam Hizib. Yang membuat cucu Syaikh Rahmatullah Al-Hindi terharu bahagia saat membaca redaksi "Ash-Shaulatiyyata bi atsariha" pada doa:

اللهم إنا نستحفظك ونستودعك ديننا وأنفسنا وأهلنا وأولادنا وأصحابنا وكل شيء أعطيتنا ونهضة الوطن بمدارسها والصولتية بآثارها على مذهب أهل السنة والجماعة إلى يوم الدين

Dengan haru itu Syaikh Mas'ud berkomentar: "Seharusnya sayalah sebagai dzurriyah pendiri Shaulatiyah yg lebih dahulu menyusun doa seperti ini. Jadi, Syaikh Zainuddin benar-benar telah bersambung nasab ilmiahnya kepada kakek kami Syaikh Rahmatullah".

Dengan doa ini semoga Madrasah Ash-Shaulatiyah sebagai salah satu benteng Ahlussunnah wal Jama'ah tetap bertahan kokoh berdiri di Kerajaan Saudi Arabia.

Dari kisah ini, TGH. Yusuf Makmun mengajak kjta mengambil pelajaran untuk tetap menjaga keotentikan Hizib Nahdlatul Wathan. Bagaimana Syaikh Salim yg sebenarnya bisa-bisa saja menambah redaksi hizib tanpa sepengetahuan penyusunnya selama tambahan itu baik dan maslahat, tapi beliau sangat mengerti etika hak cipta. Dimana saat ini banyak orang dalam dunia editorial mengubah redaksi asli pengarang dengan niat untuk memperbaiki dengan yang lebih baik sesuai selera pribadi.

Syaikh Zainuddin sendiri yg tahu banyak tentang tahqiq sering menegur orang yg berani mengubah hak cipta: "Kalau anda melihat di suatu rumah posisi pintu, jendela, furniturnya kurang tepat, apa anda berhak membongkar dan memindahkannya tanpa izin tuan rumah?"

 

--------------------------------

Sumber: Akun resmi PWK NW Mesir

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Suara NW

Akun Resmi Suara NW yang Dikelola oleh Admin.

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1094774

    Pengunjung hari ini : 21
    Total pengunjung : 577861
    Hits hari ini : 586
    Total Hits : 1094774
    Pengunjung Online : 1