I

Artikel

Gubernur NTB dan Sifatnya yang Pemaaf

Jumat
16:31:27 14 April 2017

Sejak tadi malam hingga dengan saat ini, di sosial media sedang ramai diperbincangkan terkait dengan penghinaan yang dialami Gubernur NTB Dr TGH M Zainul Majdi saat berada di Bandara Changi Singapura oleh salah seorang mahasiswa keturunan China bernama Steven Hadisurya Sulistyo. Apa yang dilakukan oleh Steven ini kemudian membangkitkan kemarahan masyarakat NTB karena tidak terima pemimpinnya dicaci maki dan direndahkan. Beberapa organsisasi seperti Aliansi Umat Islam NTB dan Ikatan Pemuda Sasak serta Keluarga Besar Nahdlatul Wathan mengecam keras perbuatan yang telah dilakukan oleh Steven.

Seusai shalat jum’at, tadinya akan dilakukan aksi besar-besaran oleh masyarakat NTB khususnya umat Islam untuk menuntut segera dilakukan proses hukum kepada Steven. Namun, aksi besar-besaran ini tidak jadi dilakukan setelah Gubernur yang juga seorang ulama’ tersebut tidak menghendaki adanya aksi di Islamic Center terkait dengan kejadian yang menimpanya. Begitu shalat jum’at yang diikuti oleh dzikir bersama usai dilakukan, Sang Gubernur ahli tafsir Al Qur’an tersebut berdiri dan berpidato dihadapan ribuan jamaah yang ada di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center Mataram.

Ada tiga point utama yang disampaikan oleh TGB dalam pidatonya tersebut yaitu:

Pertama, Beliau membenarkan bahwa Ia dan istri telah menerima penghinaan oleh orang bernama Steven Hadisurya Sulistyo saat berada di Bandara Changi Singapura.

“Terkait dengan informasi yang beredar menyangkut penghinaan yang saya alami dan istri itu benar adanya,” kata TGB.

Kedua, Beliau mengajak masyarakat khususnya umat Islam untuk selalu bepegang teguh pada al-Qur’an dan sunnah dari Nabi Muhammad SAW saat menghadapi situasi apapun.

“Menghadapi keadaan apapun di dunia ini sesungguhnya Islam telah memberikan banyak tuntunan oleh Allah melalui al qur’an maupun tuntunan dan petunjuk dari Nabi Besar Muhammad SAW. Tuntunan kitabullah terkait dengan hal yang tidak menyenangkan bagi pribadi kita masing adalah sabar dan pemaaf. Allah SWT memberi panduan sebagai arahan bagi kita dalam firmannya,”wa’aanta’fu aqrobu littaqwa,” artinya, kalau engkau memberi maaf maka itu akan mendekatkan engkau kepada taqwa kepada Allah SWT. Adapun tuntunan dari nabi kita Muhammad SAW juga jelas. Dalam sebuah riwayat disampaikan bahwa Rasul SAW mengajar kita semua,”Takhollaqu bi Akhaqillah,” belajarlah kalian untuk berakhlaq sebagaimana akhlaqnya Allah SWT yang ada di dalam al Asmaul husna. Di antara akhlaq yang terdapat dalam asmaul husna tersebut ada al ‘afwu, al ghoffaru, at-tawwab, yaitu maha memaafkan, maha memberikan taubat, dan maha menerima taubat,”paparnya.

Ketiga, Mengajak masyarakat untuk bisa menahan diri dan tidak mudah terprovokasi.

“Nabi SAW juga mengingatkan kita bahwa bukanlah yang hebat di antara kalian itu adalah orang yang menang tarung saat bertarung tapi yang hebat di antara kalian itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya pada saat dia marah. Dalam konteks yang kolektif sebagai suatu masyarakat, maka hadits ini bisa kita analogikan bahwa masyarakat yang hebat adalah masyarakat yang mampu mengendalikan dirinya, menjaga akal sehatnya, meletakkan tuntunan-tuntunan agama, kebangsaan, dan kemanusiaan pada dirinya. Oleh karena itu, saya meminta kepada kita semua agar mari bersama kita menjaga persaudaraan di antara kita. Mari kita jaga, keutuhan dan kebersamaan kita. Jangan terprovokasi dalam bentuk apapun. Lelah kita bangun NTB ini. Kita sayangi bumi Allah ini. Mari kita rawat bersama dengan sebaik-baiknya sebagai bagian dari cara kita menunaikan amanah Allah SWT.

Di akhir pidatonya, ia berharap dan berdo’a supaya apa yang telah menimpanya itu menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk tidak berbuat arogan terhadap siapapun.

“Mudah-mudahan apa yang terjadi pada diri saya dan keluarga menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa tidak boleh ada kelompok yang menganggap dirinya lebih dari orang lain. Apakah karena lebih banyak hartanya ataukah faktor-faktor lain apapun itu. Jangan ada orang yang merendah-rendahkan orang ataupaun kelompok orang lain. Saya tidak bisa melarang orang marah terhadap apa yang terjadi. Akan tetapi, kemarahan-kemarahan yang ada itu tidak boleh mendorong kita pada suatu bentuk maksiat,” paparnya dengan penuh kerendahan hati.

Setelah mendengarkan arahan dan pidato singkat dari TGB tersebut, hati saya menjadi tenang dan sejuk. Meski beliau diperlakukan sangat tidak baik oleh oknum yang merasa dirinya hebat namun beliau tetap sabar dan memberikan maaf. Saya sebelumnya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi seandainya TGB tidak memberi maaf kepada orang yang telah menghinanya itu. Dengan sikap bijaksana dan jiwa kenegarawanannya, sang gubernur mengarahkan dan mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan hal yang dalam bahasa beliau yaitu perbuatan yang mendorong untuk berbuat maksiat. Semoga kita bisa meniru sifat dan jiwa dari seorang ulama’ seperti TGB Dr M Zainul Majdi.

Mataram, 14 April 2017

 

Muhammad Zulkarnain

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Zulkarnain

Abituren Nahdlatul Wathan, alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Founder Media Suara Nahdlatul Wathan.

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1094776

    Pengunjung hari ini : 21
    Total pengunjung : 577861
    Hits hari ini : 588
    Total Hits : 1094776
    Pengunjung Online : 1