I

Artikel

SEMINAR NASIONAL, PENGENALAN DAN PENGAMALAN TAREKAT HIZIB NAHDLATUL WATHAN

Jumat
07:30:28 12 Mei 2017

Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid  yang akhir-akhir ini kerap disebut sebagai Sulthanul Aulia adalah sosok ulama dan Wali Allah yang memiliki rekam jejak perjuangan dan pengabdian yang sangat inspiratif. Usaha-usahanya untuk membangun ummat melalui kegiatan-kegiatan pendidikan, sosial dan dakwah Islamiyah, khususnya di Pulau Lombok telah memberikan pengaruh yang signifikan bagi perubahan masyarakat di wilayah tersebut. Prestasi yang ditorehkannya, menurut Sejarawan Lombok, merupakan prestasi terbaik yang pernah dicapai oleh masyarakat Sasak sepanjang sejarah.

Di antara prestasi yang berhasil dicapai oleh Sulthanul Aulia Maulana Syaikh, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, antara lain adalah memurnikan ke-Islam-an masyarakat yang sebelumnya banyak bercampur dengan tradisi lama sebelum datangnya Islam (sinkretisme) hingga akhirnya Islam menjadi  identitas masyarakat Lombok yang salim dalam membangun sumber daya manusia melalui pendidikan modern yang sebelumnya tidak dikenal dalam tradisi pendidikan Islam di wilayah tersebut, serta membangun kesadaran berserikat dan berkumpul melalui organisasi Nahdlatul Wathan, dan bersepiritual melalui sebuah tarekat yang dikenal luas dengan nama Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan.

            Sebagai dorongan awal dalam sejarah kelahiran Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan adalah kedatangan Nabi Khidir `alahissalam untuk bertemu dengan Sulthanul Aulia Maulana Syaikh, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Dalam pertemuan itu, Nabi Khidir `alahissalam  berkata dengan menyampaikaan salam dari  Nabi Ibrahim `alahissalam yang menyatakan bahwa Nahdlatul Wathan (NW) akan  menjadi organisasi yang lengkap dan sempurna apabila ia telah memiliki tarekat, maka hendaklah membentuk perkumpulan tarekat.

             Dalam sejarah dan proses penyusunan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan ini terhitung sejak tahun 1964 dan dapat diselesaikan dengan lengkap pada tahun 1967. Setelah proses penyusunan selesai, kemudian beliau menamakan tarekat tersebut dengan nama Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan, sebuah tarekat yang kemudian dipernalkan pula sebagai sebuah tarekat akhir zaman.                       

            Oleh sebab itu, sebagai salah satu motivasi mendasar bagi Sulthanul Aulia Maulana Syaikh, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid untuk membentuk dan menyusun Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan serta memperkenalkannya sebagai sebuah tarekat akhir zaman adalah karena mengamati perkembangan zaman yang semakin tak terkendalikan oleh nilai-nilai hidup yang berbau sekuler dan materialistis.

            Dalam konteks ini, rupanya Sulthanul Aulia Maulana Syaikh, sangat memahami kendala-kendala yang dihadapi dalam mengamalkan tarekat oleh umat di era modern atau akhir zaman yang penuh dengan berbagai tantangan spiritual ini, sehingga pada gilirannya mereka meninggalkan atau enggan untuk masuk ke ranah spiritual itu sendiri, seperti melalui tarekat. Lalu, melihat fenomena ini, Maulana Syaikh membuat atau menyusun sebuah tarekat yang dinamakan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan yang bercirikan fleksibel, ringkas dan praktis yang menurutnya cocok dan tepat diperuntukkan untuk umat saat ini, tanpa mengurangi dan mengesampingkan substansi dan makna esoterik atau bathinnya dari tarekat tersebut.

Untuk penyebutan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan sebagai tarekat Akhir Zaman oleh Sulthanul Aulia Maulana Syaikh, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid karena beliau telah meramalkan bahwa Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan yang disusunnya itu adalah merupakan Tarekat penutup dan tidak akan ada lagi muncul Tarekat sesudahnya.   Selain itu pula, sebagai alasan yang lebih rasionalnya lagi adalah karena adanya kesamaan dengan konsepsi Tasawuf modern yang memiliki penghayatan keagamaan bathini yang menghendaki hidup aktif dan terlibat dalam masalah-masalah kemasyarakatan. Sesekali menyingkirkan diri (al-Uzlah) mungkin ada baiknya, jika hal itu dilakukan untuk menyegarkan kembali wawasan dan meluruskan pandangan, yang kemudian dijadikan titik tolak dalam pelibatan diri dalam aktivitas yang lebih segar. Dan lebih kongkritnya lagi bahwa Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan merupakan tarekat yang bercirikan pada fleksibilitas, ringkas dan praktis dalam pengamalan dan substansi susunan tarekat tersebut, sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif dalam bertarekat bagi kehidupan modern saat ini. Seseorang dapat melaksanakan tugas kesehariannya dengan tanpa melupakan dan meninggalkan kepuasan  bathiniyahnya. Dan sebaliknya, seseorang dapat hidup damai secara bathiniyyah dalam suasana kedekatan kepada Allah, tanpa kehilangan atau terasing dari kehidupan dunia.

            Dengan memerhatikan sekilas pemaparan diatas, maka pengurus Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, melalui momentum Peringatan Haul Ke-19 Sulthanul Aulia Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ini bermaksud  melakukan sebuah seminar dalam upaya mengenalkan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan sebagai sebuah tarekat akhir zaman yang merupakan buah karya nyata dan warisan dari sang pendiri organisasi NW.

SEMINAR TANGGAL 13 MEI 2017

HADIR YA...!!!

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Abu Danis

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1094814

    Pengunjung hari ini : 21
    Total pengunjung : 577861
    Hits hari ini : 626
    Total Hits : 1094814
    Pengunjung Online : 1