I

Artikel

HIMMAH NW; Intelektual Muda NW, Kekuasaan dan Sebuah Otokririk

Senin
10:34:06 05 Juni 2017

HIMMAH NW; Intelektual Muda NW, Kekuasaan dan Sebuah Otokririk

Oleh : Muh. Samsul Anwar

Ketua Lembaga Kajian Islam dan Kebangsaan

Himpunan Mahaiswa Nahdlatul Wathan (LKIK-HIMMAH NW)

 

“Para intelektual telah turut membentuk kehidupan politik di negara-negara sedang berkembang; merekalah para inisiator, para pemimpin, dan para pelaksana dari kehidupan politik itu”. (Edwar Shils,1972).

Sering kita mendengar sebuah istilah “Intelektual”, yang kadang kala di media masa disebut dengan aktor intelektual. Ada juga istilah lain seperti intelegensia dan cendikiawan. Istilah-istilah ini memiliki arti yang sama akan tetapi memiliki pebedaan. Akan tetapi yang menjadi fokus saya kali ini adalah  istilah intelektual yang kemudian menjadi sebuah kekuatan politik atau kekuasaan (power).

Secara etimologis, intelektual berasal dari bahasa Latin, enterlego atau intelego yang berarti “aku membaca di antaranya” atau “aku memisah uraikan”. Untuk itu, Karl Ernes George mendefinisikan intelektual sebagai orang yang dalam dan intens memikirkan atau menghayati segala sesuatu. Atau Soekarno mendefisinikan kaum intelektual sebagai orang-orang yang mempunyai kapasitas akal pikiran ketimbang orang banyak. Dalam kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary menyebutkan bahwa intelektual adalah orang yang mempunyai atau menunjukkan kemampuan nalar yang baik, yang tertarik pada hal-hal rohani, seperti kesenian, ide-ide demi seni atau ide itu sendiri.

Istilah intelektual muncul dari tulisan Clamenceau di salah satu harian Paris L’Aurorepada 23 Januari 1898 untuk menggambarkan para tokoh Dreyfusards (julukan bagi para pembela Kapten Dreyfus terhadap kesewenang-wenangan Angkatan Darat Perancis). Oleh pemerintah Perancis, kelompok ini dianggap sebagai gerakan pembangkang terhadap bangsa. Istilah intelektual ini kemudian mendapatkan tempat di dunia Barat pada akhir abad ke-19 bagi sekelompok elit yang mematuhi kaidah dan norma-norma tertentu sebagai panutan dalam kehidupan bermasyarakat. Sekelompok elit atau kaum intelektual ini, memiliki peran sebagai agen pencerah (aufclarunk) atau meminjam istilah Ali Syari’ati rausan fikr yang memihak pada hati nurani dalam menyelesaikan problem yang timbul di masyarakat.

HIMMAH NW: Intelektual Muda NW

HIMMAH NW atau kepanjangan dari Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan, berasal dari bahasa Arab yaitu kalimat “Himmaturrijal Tahdumul Jibal” yang artinya cita-cita tinggi melebihi cadas gunung tertinggi. Sekelompok kumpulan mahasiswa yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pengetahuan dan respek terhadap kondisi sosialnya, meminjam istilah Antonio Gramsci, yaitu sebagai intelektual organik.

Sekelompoh intlektual muda ini lahir dan dikukuhkan pada  Musyawarah Besar (Muktamar) ke IV Nahdlatul Wathan tanggal 22 Juli s/d 1 Agustus 1966 di Pancor Lombok Timur kemudian ditetapkan dalam kongres I HIMMAH NW tanggal 27 s/d 30 Juni 1969 di Pancor Lombok Timur. HIMMAH NW yang bervisi menyebarluaskan dakwah islamiyah melalui HIMMAH NW ala mazhabi ahlussunnah wal-jama’ah sampai hari kemudian. Dan bermisi merekrut dan membentuk kader-kader himmah nahdlatul wathan di berbagai  daeerah di seluruh Indonesia; Membina kader-kader HIMMAH Nahdlatul Wathan sebagai perpanjangan tangan oraganisasi Nahdlatul Wathan; Membuat dan mendirikan lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan; Kader-kader HIMMAH NW ikut berkecimpung dalam hal membuat kebijakan pemerintahan baik di lembaga legislatif, ekecutif dan yudikatif; Mengembangkan perjuangan Nahdlatul Wathan di mana saja berada yang berpatokan kepada ajaran ahlussunnah waljama’ah mazhab Imam syafi’iyah (Lihat AD/ART).

Menjadi penting kehadirannya sebagai upaya check and balance dalam kebijakan-kebijakan pemerintahan yang menindas, serta menjadi kekuaatan moral-intlektual muda Nahdlatul Wathan serta kritis terhadap dokrin-doktrin yang meninabobokkan di masyarakat.

Tugas HIMMAH NW adalah untuk memberikan pencerahan intlektual terhadap masyarakat dalam rangka memberikan kesadaran sosial. Maulana Syaikh telah memikirkannya jauh sebelumnya, dan memberikan ruang yang besar bagi HIMMAH NW untuk memperjuangkan, tidak hanya Nahdlatul Watah itu sendiri, melinkan juga, nusa dan bangsa. Karena itu HIMMAH NW menjadi sumber kekuasaan (power). Akan tetapi, geliat yang terjadi hari ini, HIMMAH NW jarang kalau tidak mengatakan tidak pernah untuk mengkritis kebijakan-kebijakan baik di daerah, NTB mapun di tingkat nasional. Sekarang menjadi ujian bagi HIMMAH NW sendiri,  adalah yang mana pimimpin tertinggi, pengurus Nahdlatul Wathan menjadi Gubernut NTB. Kita akan bisa melihat sajauh mana indenpensinya terhadap kekuatan moral dan daya kritisnya terhadap Gubrnur. Begitu juga, dalam mengkritisi kebijakan Nahdlatul Wathan yang tidak pro terhadap jama’ahnya. Bahkan para Tuan Guru dan para ust, yang “mendokrin” masyarakat atau bahkan menintruksikan untuk berbuat anaktis. Sekali lagi peran HIMMAH NW sebagai sekumpulan para intlektual memainkan peran yang penting dalam masyarakat, baik itu sebagai kekuatan moral maupun mengkritisi hal-hal yang bertentangan dengan kejumudan intlektual.

Pembacaan tentang Inlektual

Bisa dijelaskan dengan beberapa teori yang menjelaskan seorang intelektual memiliki peran sebagai pencerahan (aufclarunk) atau sebagai membentuk kehidupan politik di Negara-negara berkembang-meminjam istilah Edwar Shils-. Pertama, teori intelektual ala Harry Jualian Benda (1867-1956). Lewat buku monumentalnya, La Trahison Des Clercs (1927), Benda memberi beberapa catatan tentang intelektual diantaranya, seorang intelektual adalah pejuang kebenaran dan keadilan, tekun dan menikmati bidang yang digelutinya, tidak ditunggangi ambisius materi dan kepentingan sesaat, berani keluar dari sarangnya untuk memprotes ketidakadilan dan menyuarakan kebenaran, walau mahal resikonya, dan oleh karena itu ia tidak takut dipenjara atau hidup susah. Dalam istilah Arif Budiman bahwa seorang intelektual adalah “pertapa” yang bila suatu waktu yang membuatnya gelisah dengan keadaan sekitarnya beliau akan turun untuk memberikan fatwa atau nasihat kepada penguasa. Yang sosok-sosok semacam Socrates, Yesus, dan Spinoza adalah profil yang sangat pas bagi Benda ini.

Kedua, teori kaum intelektual dalam terminologi M. Foucoult dari Nietzsche, will to power. Ini merupakan antitesis dari teori yang pertama. Bahwa pengetahuan seorang intelektual merupakan pertumbuhan setimbang atau sejajar dengan hasrat untuk melakukan dominasi dan hegemoni. Bagi Nietzsche (1844-1900) tujuan memperoleh pengetahun bukanlah untuk mengetahui kebenaran mutlak, melainkan untuk menguasai kenyataan.

Kalua kita melihat dengan kaca mata teori ini maka, para mahasiswa yang berbondong-bondong kuliah di berbagai Universitas Luar atau dalam negeri tidaklah untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk negeri ini akan tetapi lebih kepada menguntungkan pribadinya sendiri sehingga negeri ini dikuasai atau dihegemoni oleh segelintir elit. Seperti yang pernah terjadi pada masa Orde Baru bahwa para intelektual yang notebene yang belajar ke Barat menjadi bodyguard sebuah Rezim Orde Baru yang kemudian disebut oleh Benda dengan ini disebut sebagai “Penghianatan Intelektual”. Tidak jauh juga terjadi pada masa Reformasi dimana sekelompok intelektual yang menamakan diri mereka dengan Feedom Institute dengan mendukung kenaikan harga BBM yang dimana kebijakan itu  jelas-jelas menyengsarakan rakyat. Ini terjadi kerena daya intelektual kritisnya sudah terbeli dan daya intelektual kritisnya hanya berada di ujung langit atau di menara gading.

Ketiga, teori intelektual ala Antonio Gramsci. Bahwa Gramsci membagi intelektual menjadi dua. Pertama, Intelektual tradisional, yaitu para intelektual yang patuh dan tunduk kepada rezim kekuasaan Fasis. Mereka ini adalah musuh rakyat yang dimana posisinya dan integritasnya dengan penguasa rezim berkerjasama memanipulasi system social dan politik. Kedua, Intelektual Organik, yaitu mereka yang turun dari “singgasana menara gading” dan bergabung dengan masyarakat untuk menjalankan tugas keahliannya profetisnya serta membangkitkan kesadaran masyarakat dari manipulasi oleh kekuasaan hegemonic dengan memberikan pendidikan-pendidikan cultural dan politik dalam bahasa kesehariaan.

Oleh karenanya, HIMMAH NW hidarapkan berperan sebagai peran intelektual organik. Peran yang tidak hanya berdiam diri di menara gading, akan tetapi juga ikut terlibat dan mengambil peran dalam kepentingan masyarakat. Dan mudahan-mudahan tidak terjadi pada tingkatan HIMMAH NW yang hanya bergelut dan bergeliat pada ilmu pengetahuan. Dan saya optimis bahwa masih ada intelektual kita atau mahasiswa yang akan memperjuangkan hak kaum tertindas dan  tidak mementingkan materialisme dan pragmatism semata.

Salam Pegerakan…..Aku bergerak maka Aku Ada. Himmaturrijal Tahdumuljibal. SELAMAT HARI JADI HIMPUNAN MAHASISWA NAHDLATUL WATHAN (HIMMAH NW) 51. SAYA BANGGA MENJADI KADER HIMMAH NW. Wallahu’alamu bissawab.

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Muh. Samsul Anwar

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ketua Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan (HIMMAH NW) Jakarta

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1043103

    Pengunjung hari ini : 7
    Total pengunjung : 576440
    Hits hari ini : 435
    Total Hits : 1043103
    Pengunjung Online : 2