I

Artikel

Kiat Menumbuhkan Takwa (1)

Sabtu
12:53:33 15 Juli 2017

Oleh: Tuan Guru Bajang (TGB), Dr. M. Zainul Majdi, M.A.



Mutiara Iman Saya diminta untuk menyampaikan sedikit tentang takwa. Pembi caraan tentang hal ini adalah yang paling inti di dalam agama. Allah berkali-kali mengimbau umat manusia untuk menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi berbagai macam larangan.

Rasulullah tak pernah bosan mengingatkan para sahabat untuk senantiasa menjaga ketakwaan.
Ulama dalam berbagai karya tulisnya selalu memulai goresan penanya dengan kalimat tahmid, bershalawat, dan mengimbau kita untuk bertakwa. Sikap ini adalah bekal kehidupan bahagia dunia dan akhirat.

Allah berfirman, Wa tazawwadu fainna khairaz zaadit taqwa. Artinya, berbekallah. Sebaik-sebaiknya bekal adalah takwa kepada Allah SWT. (QS al- Baqarah: 197).

Di dalam Alquran, Allah memosisikan takwa itu sebagai hasil dari ikhtiar yang berkelanjutan dari seorang mukmin untuk mencapai ridha Allah SWT. Dalam suatu ayat Allah berfirman yang artinya, "Wahai segenap manusia, sembahlah Tuhan yang telah mencipatakan kalian dan orang-orang dahulu agar kalian bertakwa. (al- Baqarah : 21).

Ayat berikut ini sangat populer di dalam bulan suci Ramadhan, yaitu ayat yang di dalamnya ada perintah puasa. "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa."
(al-Baqarah: 183).

Dalam ayat pertama, Allah menyebut seluruh manusia. Ayat kedua, yang disebut orang-orang beriman. Di semua ayat tersebut, takwa diletakkan sebagai tsamrah atau hasil atau buah.
Maka, saya ingin mengajak kepada kita semua untuk merenungkan, kapan buah takwa itu bisa hadir.

Kalau kita menggunakan analogi pohon atau tumbuhan-tumbuhan, maka buah yang manis dan lezat itu dimulai dari tanah yang subur. Tanah yang subur untuk menghasilkan buah takwa adalah hati manusia yang penuh dengan iman. Hati manusia yang bersih, terbebas dari dosa akan menumbuhkan ketakwaan. Kelak, `manisnya' takwa akan dirasakan.

Ukuran hidup di dalam Alquran itu tidak hanya roh, hidup secara biologis. Lebih dari itu, hidup dalam Alquran adalah manakala di dalam diri manusia ada iman yang mengalir ke seluruh anggota badan.

Di dalam Alquran digambarkan dalam surah al- Hajj ayat lima, Allah mengajak kita untuk menengok fenomena alam dan lalu meletakkannya menjadi ibrah untuk sesuatu yang lebih tinggi dan lebih berguna. Ada yang melihat sebagian kawasan bumi gersang, tandus, mati.
Para ulama menyampaikan ini bisa menjadi gambaran dari hati manusia tanpa iman.

Kemudian, ketika kami turunkan ayat ke atasnya, dia itu mulai bergerak, kemudian tanah yang kering itu pecah. Lalu, dia mengarah ke atas, keluarlah benih-benih pohon yang rindang.

Demikianlah gambaran hati manusia. Ketika hati manusia didatangi iman maka dia bergerak, terciptalah suatu dinamika. Kemudian muncullah ubudiyah, semangat untuk berkontribusi terhadap kemanusiaan.

 

Sumber: Harian Republika

 

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Suara NW

Akun Resmi Suara NW yang Dikelola oleh Admin.

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1091827

    Pengunjung hari ini : 12
    Total pengunjung : 577806
    Hits hari ini : 694
    Total Hits : 1091827
    Pengunjung Online : 1