I

Artikel

Kiat Menumbuhkan Takwa (2-Habis)

Sabtu
12:55:39 15 Juli 2017

Oleh: Tuan Guru Bajang (TGB), Dr. M. Zainul Majdi, M. A.



Mutiara Iman Allah telah memberikan iman, keyakinan kepada Sang Pencipta. Mari kita rawat keimanan tersebut. Kita beri pupuk iman itu dengan senantiasa bersyukur dan bersabar atas apa pun yang kita hadapi. Tidak usah terlalu senang atas nikmat yang kita terima dan jangan pula terlalu susah atas sesuatu yang luput dari kita.

Ada beberapa rambu yang terkait dengan ketakwaan. Pertama, Allah SWT berfirman, "Janganlah kalian memuji diri kalian. Menyebut-nyebut tentang kebaikannya, apalagi mengaku sebagai orang yang lebih baik kepada orang lain. Janganlah menganggap dirinya lebih bertaqwa dibanding orang lain."

 

Jangan sekali-sekali memuji diri sendiri dan juga jangan berlebihan kepada orang lain.
Secinta-cintanya Anda pada orang lain, sehebat-hebatnya idola di depan mata Anda, ada ungkapan, "Kalau engkau terlalu banyak memuji seseorang, maka sesungguhnya engkau telah memotong lehernya."

 

Artinya apa, takwa mengajarkan kita untuk mengapresiasi semua makhluk Allah SWT dan meletakkan segala sesuatu pada proporsinya. Apa yang kita ketahui merupakan bagian kecil dari ilmu Allah. Allah SWT di dalam Alquran mengingatkan kita bahwa ukuran segala sesuatu adalah takwa.

Namun, Allah SWT tidak selalu memerintahkan kita untuk mengukur ketakwaaan seseorang dengan ukuran kita. Cukuplah ketika dia bersyahadat, kita anggap dia sebagai ahlul iman wat takwa, yaitu orang yang beriman dan bertakwa.

Yang kedua, bahwa berlebih-lebihan di dalam ibadah bukan tanda ketakwaan. Ada sebuah kejadian pada zaman Rasul, tiga sahabat datang ke sebagian istri Rasulullah, lalu bertanya tentang ibadah Rasulullah SAW.

Usai diceritakan oleh istri Rasul SAW tentang macam, jenis, dan banyaknya ibadah Rasul, mereka kemudian seakan- akan mengecilkannya, lalu satu sama lain mengatakan, kalau Rasulullah tidak apalah dia beribadah seperti itu, tidak berlebih-lebihan karena dia sudah Rasul.
Sedangkan kalau kita yang bukan Rasul maka kita harus mati- matian, habis-habisan, dan menggunakan semua waktu kita untuk beribadah kepada Allah dalam bentuk ibadah mahdhah.
Maka yang satu berikrar, saya akan bangun malam dan tidak tidur-tidur lagi, yang satu berikrar, saya akan puasa setiap hari dan saya tidak akan berbuka. Yang satu berikrar, mulai hari ini saya akan meninggalkan istri.

Kemudian, Rasulullah mendengar itu dan memanggil ketiganya. Lalu berkata, "Saya mau tanya kalian, kalian akuikah bahwa saya adalah orang paling takwa kepada Allah?" Mereka mengiyakan. Kata Rasul, "Saya tidur, saya bangun tengah malam Tahajud, saya puasa dan esoknya saya tidak puasa, saya juga memiliki istri dan keturunan."

 

Takwa itu berarti juga mengajarkan moderasi, mengajarkan proporsionalitas, jangan berlebih-lebihan. Kalau dalam ibadah saja Rasulullah mengingatkan kepada kita untuk tidak berlebih-lebihan, apalagi di dalam kehidupan kita. Menghadapi perbedaan pendapat satu sama lain, menghadapi dinamika-dinamika, sosial, budaya, perbedaan-perbedaan yang ada di tengah kita sebagai bagian dari masyarakat yang luas dan majemuk ini, maka tentu berlebih lagi kita tidak boleh mengembangkan sikap berlebihan.

Yang terakhir, takwa itu kalau di dalam bahasa surah al-Maidah ayat 2, Allah SWT berfirman, "Wa ta'awanu 'alal birri wat taqwa, wa la ta' awaunu alal itsmi wal 'udwan. " Ayat ini mengajarkan kita untuk di dalam takwa itu kita juga harus membangun sinergi. Satu orang yang bertakwa dengan satu amal baik, akan jauh bedanya dibandingkan ketakwaan kolektif dari seluruh umat.

Maka, mari kita himpun energi kita dalam kebaikan. Mari kita saling bahu- membahu di dalam ketakwaan dan kebajikan. Hanya dengan inilah akan tercipta berlipat ganda energi umat dan pada akhirnya menjadi umat terbaik.

Itu sekelumit yang dapat saya sampaikan, bagaimana kita sama-sama memproyeksikan buah takwa dari tanah yang baik, dengan pupuk, dan siraman air yang cocok, tumbuh pohon yang kuat dan buahnya pasti buah takwa yang kuat.

Pada saat yang sama, mari kita satu sama lain membuang klaim-klaim sebagai orang yang paling bertakwa. Sebaliknya mari kita bangun sinergi bersama- sama. Kita ini manusia yang satu sama lain penuh dengan kekurangan.

 

Sumber: Harian Republika

 

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Suara NW

Akun Resmi Suara NW yang Dikelola oleh Admin.

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1040986

    Pengunjung hari ini : 6
    Total pengunjung : 576380
    Hits hari ini : 1346
    Total Hits : 1040986
    Pengunjung Online : 1