I

Artikel

Hadiah Terbesar pada Ramadhan

Sabtu
12:59:39 15 Juli 2017

Oleh: Tuan Guru Bajang (TGB), Dr. M. Zainul Majdi, M.A.




Mutiara Iman Bagaimana memaknai bulan suci Ramadhan. Kalau kita bicara Ramadhan, tentu hadiah paling besar bagi kita yang diberikan pada bulan itu adalah Alquran. Allah SWT berfirman: "Syahru ramadaana alladzii unzila fiihil quraan hudan lilnnaasi wabayyinaa tin mina alhudaa waalfurqaani faman syahida minkumusy syahra falyashumhu waman kaana mariidhan aw 'alaa safarin fa'iddatun min ayyaamin ukhara yuriidu allaahu bikumu alyusra walaa yuriidu bikumu al'usra walitukmiluu al'iddata walitukabbirullaaha 'alaa maa hadaakum wala'allakum tasykuruun." (QS al-Baqarah: 185).

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan- penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah.

Barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa) maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."

 

Membahas Alquran tak perlu lebih dalam lagi ke dalam ayat-ayatnya secara detail.Cukup kita mengkaji nama- namanya saja itu mengajarkan kita bahwa tradisi menulis dan membaca adalah bagian paling penting di dalam membangun peradaban.

Kalau kita baca tulisan para ulama, misalnya, Imam Zarkasyi mengatakan, ada 55 nama Alquran, Imam Fairuzabadi bahkan mengatakan bahwa ada 93 nama Alquran.

Nah, dari sekian banyak nama Alquran, para ulama menyebut ada lima nama yang memang bukan sifatnya. Pertama Alquran, kedua Alkitab, ketiga al- Furqan, keempat adz-Dzikr, dan kelima at-Tanzil.

Jadi, lima nama ini tidak sekadar sifat, tetapi juga langsung merupakan nama dari kitab suci. Dari lima ini kalau kita cermati, paling tidak ada dua yang langsung terkait dengan tradisi intelektual yang namanya menulis dan membaca. Pertama Alquran, artinya yang dibaca. Dari nama sendiri sudah jelas bahwa kitab ini mengajak kita semua untuk banyak-banyak membacanya dan membaca segala ilmu yang terinspirasikan oleh Alquran.

Nama yang kedua adalah Alkitab. Alkitab itu juga sama seperti Alquran. Kalau Alquran artinya yang dibaca, maka Alkitab itu artinya yang ditulis atau yang tertulis. Jadi, dari nama Alquran sendiri sudah tergambar bagaimana Allah SWT sudah mengarahkan akal pikiran kita, potensi kita menuju yang maksimal melalui wasilah menulis dan membaca. Karena kitab suci kita sendiri dinamakan kitab suci namanya yang tertulis dan yang terbaca, serta yang ditulis dan yang dibaca. Baru kemudian ada ketiga nama, at-Tanzil yang diturunkan, adz-Dzikr bisa berarti peringatan atau kemuliaan, dan al-Furqan yaitu memberikan penjelas dan pembeda yang hak dan batil.

Dari kelima nama Alquran itu dua di antaranya bersinggungan langsung dengan proses intelektualitas, kemanusiaan kita, dan pembudayan kita. Itulah menulis dan membaca. Dengan demikian, kita bisa lihat secara simbolik Allah SWT dengan penamaan kitab sucinya ini mendorong kita sejauh-jauhnya, memotivasi kita setinggi-tingginya untuk terus-menerus menulis dan membaca.

Proses literasi umat diinisiasi atau dimulai bukan dari zaman Rasulullah SAW sebagai rasul terakhir. Melainkan lebih dari itu, yaitu dorongan perintah langsung dari Allah SWT, sehingga tidak ada alasan umat Islam itu malas menulis atau membaca.

 

Sumber: Harian Republika

 

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Suara NW

Akun Resmi Suara NW yang Dikelola oleh Admin.

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1040998

    Pengunjung hari ini : 6
    Total pengunjung : 576380
    Hits hari ini : 1358
    Total Hits : 1040998
    Pengunjung Online : 1