I

Artikel

Istiqamah Hingga Beruban

Sabtu
13:02:42 15 Juli 2017

Oleh: Tuan Guru Bajang (TGB), Dr. M. Zainul Majdi, M.A.


Suatu ketika rambut Rasulullah beruban.
Para sahabat bertanya, bagaimana ceritanya bisa beruban.

Apa yang sedang dipikirkan Rasulullah.

Kemudian dijawab bahwa Nabi Muhammad menjadi beruban tiba-tiba karena huddan saudara-saudaranya.

Maksudnya adalah firman Allah yang turun sehari sebelumnya.
Bunyi ayat tersebut adalah, 
Fastaqim kama umirta wa man taaba ma'aka.

Artinya, "Wahai Muhammad, istiqamahlah engkau sebagaimana Allah perintahkan kepadamu dan orang-orang yang bertobat bersamamu.
"
Ayat ini turun di tengah hantaman gelombang yang luar biasa waktu itu.

Rasulullah diperintahan untuk tetap istiqamah.
Keluarlah uban beliau.

Istiqamah ini berat.
Rasulullah saja beristiqamah hingga beruban.
Orang yang beristiqamah dalam perputaran sejarah dunia, seperti sedang menggenggam bara api.
Sakit tapi harus dilaksanakan.
Dalam sebuah atsar disebutkan, 
Istiqamah wahidah khairun min alfi karamah.

Satu istiqamah lebih baik dari seribu karamah.
Itulah gambaran, betapa sulitnya istiqamah.

Bapak dan ibu mengisi masjid ini dengan shalat rawatib dan shalat fardhu.
Semoga bisa konsisten.

Istiqamah itu sederhana ukurannya.

Kata Allah, "
Kama umirta.
"
Sebagaimana engkau diperintahkan.

Sebagaimana apa adanya yang diturunkan Allah kepada Rasulullah.

Rangkaian keseluruhan Islam itulah yang dimaksud kama umirta.

Saya ingin mengajak merenungkan ayat 186 surah al-Baqarah, yang turun dalam rangkaian perintah puasa.

Ayat 183 memerintahkan kita untuk puasa.
Dua ayat berikutnya menyampaikan tentang mengapa Ramadhan mulia dari sekian banyak kehebatan dan keistimewaannya.
Yang menyebabkan mulia adalah Alquran turun di dalamnya.

Dalam surah al-Baqarah ayat 186 Allah menyatakan, Wa idza saalaka ibadi anni fa inni qarib, ujibu da'wata da'i idza da'ani falyastajibuli wal yu'minu bi la'allahum yarsyudun.
Kita mulai dari ujung, la'allahum yarsyudun.
Ini mirip arti dan tujuan istiqamah.
Arrasyad artinya istiqamah alassyai.
Kelurusan apa adanya.
Yang hak adalah benar.
Yang tak benar adalah batil.

Dalam ayat tersebut Allah berfirman, Apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang aku, tentang Allah SWT, sesungguhnya aku sangat dekat kata Allah.
aku pasti akan menjawab doa orang yang meminta kepadaku.
Maka jawablah seruanku.
Ujibudan laalahum yarsyudunbertaut dan menggantung pada falyastajibuli.

Allah akan menjawab doa kita akan meluruskan apa yang kita mintakan untuk diluruskan.
Akan memudahkan perjuangan, menetapkan kita pada tempat yang baik atau rasyad.

Hidup bukan diukur dengan napas, tapi hayatul iman fi qalbil mu'minin.

Apabila di jiwa kita ada kehidupan iman dan keyakinan kepada Allah.
Istijabah inilah yang menentukan kehidupan.

Jangan sampai umat Islam melihat, ukuran yang kuat memangsa yang lemah.
Yang berkuasa melaksanakan kuasanya dengan cara tak baik.
Yang kaya menindas orang miskin.
Yang bermodal mengeksploitasi sumber daya tanpa memedulikan sumber daya.
kita tak boleh seperti itu.

Rasulullah mengatakan, janganlah kalian menjadi orang imma'ah, yang tak berprinsip, yang diombang-ambingkan oleh keadaan, yang berusaha adaptasi dengan pragmatisme tak terbatas.

 

Sumber: Harian Republika

 

 

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Suara NW

Akun Resmi Suara NW yang Dikelola oleh Admin.

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1040978

    Pengunjung hari ini : 6
    Total pengunjung : 576380
    Hits hari ini : 1338
    Total Hits : 1040978
    Pengunjung Online : 1