I

Artikel

Gelagat Keilmuan di Tanah Mullah

Sabtu
01:27:53 02 September 2017

Pengantar

Bismillahirrohmanirrohim

Bismillahi wa bihamdih

Assalamualikum. Wr. Wb.

Tulisan ini bukan tulisan saya, tapi seorang teman yang sedang studi di tanah Mullah, Iran. Menarik, karena tradisi yang berlaku di sana identik dengan tradisi pesantren-pesantren di Indonesia seperti dalam Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan di Lombok misalnya, dan lain-lain. Menurut hemat saya, tulisan ini menarik untuk dibaca sebagai bahan perbandingan untuk melihat bagaimana tradisi dan gelagat keilmuan dalam sejarah dunia Islam yang melahirkan tokoh-tokoh berpengaruh dalam sejarah dunia Islam khususnya.

Gelagat Keilmuan di Tanah Mullah

Oleh 

Alam Syah

(Mahasiswa STFI Sadra Ang. 2013. Sekarang studi di Qum Iran. Fokus Studi Filsafat)

 

Ayatullah Jawadi Amuli (saat ini sedang menyelesaikan tafsir al-Quran, baru sampai jilid ke-41), pernah berkata, “Jika kalian belajar namun tak mampu mengajarkan kembali, maka pelajari kembali apa yang kalian pelajari itu. Jelas, kalian belum memahami apa yang kalian pelajari.” Beliau menjelaskan bahwa setiap pelajaran yang dipelajari, mesti mampu dijelaskan kembali, dengan kata-kata verbal maupun tulisan. Beliau juga menasehati, “Belajarlah setinggi mungkin, sampai kalian tak lagi ‘butuh’ pada penjelasan guru-guru dan dosen kalian.”

Di Iran, seperti di Indonesia, pelajar, secara umum, dibagi dua: formal dan tradisional. Yang dimaksud pelajar tradisional adalah para pelajar agama, talabeh, orang Indonesia menyebutnya santri. Mereka ini, setelah melewati program wajib belajar 12 tahun, tak lagi memakan bangku kampus, mereka duduk di kelas-kelas kecil, atau lesehan di emperan haram (kuburan manusia suci), lalu mendengarkan ustad menjelaskan. Yang pertama kali mereka pelajari adalah nahwu-sharaf, mantiq, dan ilmu-ilmu alat serta ilmu-ilmu dasar lainnya, seperti aqidah, fiqh, sejarah, dst. Yang menarik dari mereka adalah cara mereka menimba ilmu. Ta’lim, tadris, muthala’ah, dan mubahatsah, adalah kata-kata kunci dalam menimba ilmu ala talabeh ini. 

Jadi begini cara mereka menimba ilmu. Sebelum masuk kelas, pelajari dulu apa yang akan dibaca di kelas (muthala’ah). Meski hanya lima menit. Dengarkan dan perhatikan apa yang ustad sampaikan di kelas (ta’lim). Pelajari kembali apa yang sudah dipelajari di kelas (muthala’ah). Setelah itu, buat janji dengan teman, untuk diskusi (mubahasah). Biasanya mubahasah dilakukan di malam hari.

Setelah langkah-langkah di atas sudah menjadi kebiasaan, maka talabeh mesti mengajar (tadris). Idealnya begini. Cara seperti inilah yang melahirkan ulama-ulama besar seperti Imam Khomeini, Murtadha Muthahhari, Allamah Thabathaba’i, Ayatullah Jawadi Amuli, Ayatullah Misbah Yazdi, dan ulama-ulama lainnya. 

Tak heran, di waktu-waktu tertentu, haram Sayyidah Ma’shumah, adik perempuan Imam Ali Ridha, dipenuhi suara bising talabeh. Dari anak kecil yang baru tumbuh kumis tipis, sampai kakek-kakek berjanggut putih tebal, semuanya berisik, membicarakan apa yang telah mereka pelajari. Ada yang membahas Bahasa Inggris, Nahwu, Sharaf, ushul fiqh, sampai filsafat. 

Belum lagi kelas bahtsul kharij para maraji’ (Kelas ini dikhususkan bagi mereka yang sudah selesai s-3!). Kelas ini monoton memang. Tapi ini kelas terseru dan teraktual di alam talabeh. Di sini, para maraji’ menyampaikan hasil ijitihad mereka di satu bidang fiqh tertentu. Di sinilah, jual-beli pandangan bakal terjadi. Ulama A mengkritisi pendapat ulama B. Murid menyalahkan pendapat guru. Tentu disertai dalil yang tak akan dipahami kita yang masih kesulitan membedakan fi’il madhi dan mudhore’.

Tentu tradisi belajar-mengajar seperti ini memiliki beberapa titik lemah. Sistem ini memakan waktu lama. Karena kau mesti menghabiskan satu kitab secara utuh, baru bisa membaca kitab lain. Juga, sistem ini cenderung membuat pasif para talabeh. Maksudnya, dalam sistem ini para talabeh lebih banyak mendengarkan pendapat ustad ketimbang melakukan penelitian sendiri. Plus, budaya tulis-menulis masih sepi pengunjung di dunia talabeh. 

Apapun itu, Iran bisa dikatakan berhasil menjaga sistem belajar tradisonal ini. Iran sampai sekarang masih memiliki para filosof yang senantiasa menelurkan pemikiran dan pandangan baru, berkat sistem ini. 

Bahwa setiap pelajar mesti bisa mengajar. Bahwa belajar tak boleh karena ingin mencari nilai maupun gelar. Ayatullah Behjat, sufi besar Iran, pernah bilang, “ilmu dan takwa adalah dua sayap para talabeh. Jika salah satunya tak diperhatikan, kerugian tak kecil akan menghampir

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Dan

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1040980

    Pengunjung hari ini : 6
    Total pengunjung : 576380
    Hits hari ini : 1340
    Total Hits : 1040980
    Pengunjung Online : 1