I

Artikel

IN MEMORIAM HAMZANWADI & M. NATSIR [Kenangan Manis Poros Lombok Padang]

Senin
13:55:29 13 November 2017

"Ma syaa Allahu Kaanaa, Wa maa lam yasya' lam yakun" Kehendak Allah akan tetap terjadi dan apa yang tidak dikehendakinya tidak akan prnah terjadi. [ Imam As-Syafi'i].
 
Hari ini 5 Agustus, 114 tahun lalu tepatnya tahun 1898, Masyarakat Indonesia timur menemukan mutiaranya. Dilahirkan seorang putra terbaiknya yang oleh orang tuanya diberi nama "Muhammad Saggaf" yang bermakna "sangat cergas". Dari sinilah asal sebuah kata Bahasa Sasak "Sregep" dengan arti sebuah kata sifat yang menggambarkan seseorang yang 'cepat tanggap dan penuh keseriusan'.
 
Arti kedua Saggaf itu adalah TUKANG ATAP. Dari makna ini kita akan segera membayangkan seorang sosok yang dengan jitu menemukan segera kunci problema sebuah rumah yang kumuh dan tidak sehat, kebocorannya. Kemudian dengan segera pula bergerak menuju atap dan memperbaiki letak atau mengganti genteng yang rusak.
 
Cukuplah dengan kata kunci Saggaf itu kita meringkas sejarah hidup, memahami semua sepak terjang serta semangat laten perjuangan yang diwariskan oleh TGKH. Zainuddin Abdul Madjid [Hamzanwadi] yang hari ini kita kenang hari lahir beliau 5 Agustus. [Selebihnya silahkan digoogling].
 
Sepuluh tahun kemudian, 17 Juli 1908, Indonesia bagian barat mendapatkan pula karunia berliannya, yang dimunculkan di sebuah kampung bernama  Kampung Jambatan Baukia, Alahan Panjang, negeri dingin di balik Gunung Talang Solok, Padang - Sumatra Barat. Dialah Muhammad Natsir. Jawara ini, sangat tidak butuh penjelasan dari saya.
 
Kedua Mutiara dan Berlian itu, mula-mula bertautan ressonansi perjuangannya pada nama awal pemberian orang tua mereka "Muhammad". Tidak ada sisi hidup mereka berdua yang lepas dari ruh kekasih mereka Rasulullah, Muhammad s.a.w. 
 
Adapun Natsir yang berarti PENOLONG dan PEMENANG. Keselarasan antara arti nama dan prestasi telah dibuktikannya melalui Pemilu tahun 1955, yang dianggap pemilu paling demokratis sepanjang sejarah bangsa, Masyumi, Partai Islam yang dipimpinnya meraih suara 21% dengan memperoleh 58 kursi, sehingga jika ditambah dengan partai beraliran Islam lainnya telah menjadikan politik Ummat Islam leading di Negeri ini. Maulana As-Syaikh Di Indonesia bagian timur adalah gegeduk alias ponggol Masyumi NTB. Buhul Natsir menjuntai dari Pusat berjalin kisah dan kasih dengan buhul Saggaf di akar rumput NTB. Sebuah bukti benderang bagi mereka yang teliti merenungkannya.
 
Demikianlah. ketika nama NATSIR mendapatkan kombinasinya dengan SAGGAF, maka dalam benak kita sepertinya memercikkan loncatan-loncatan sinar hasil induksi dari dua kutub perjuangan. Kutub grass root yaitu lapangan pendidikan masyarakat awam [pembenahan rumah tangga ummat] dan kutub puncak yaitu panggung politik Nasional [pemenangan idiologi tingkat puncak].
 
Maaf, anda harus kecewa jika meminta bukti empirik dari saya, tentang pertautan aktuil antara Mutiara dan Berlian dari ujung timur dan barat itu. Saya belum berbau kencur saat awal kemerdekaan, pun saya tidak memiliki keahlian kesejarahan dan journalistik. Tapi, setidaknya saya memiliki informasi mahal berupa kesaksian komunikasi langsung antara keduanya.
 
Suatu hari di tahun 1991, bersama Al-Ustaz H. Muhammad Suhaidi, [Alm.] H. Drs. Sahabuddin, [keduanya adalah Ketua dan Sekretaris Perwakilan NW Jakarta], kami bertiga dipanggil pulang ke Lombok untuk menerima Wakaf pribadi Hamzanwadi dalam bentuk uang Rp. 50 juta untuk pembelian tanah Madrasah di Jakarta. Terjadi suatu peristiwa yang sama sekali tak terdetik dalam angan-angan saya; Maulana As-Syaikh mengambil secarik kertas, menuliskan kalimat berbahasa Arab lalu menanda tanganinya kemudian menyerahkannya kepada saya dengan pesan: 
 
"Anta Hasanain, ne tugasme' .... Sampaikan Surat ini kepada Adingku, Ustaz Muhammad Natsir. Jangan serahkan kepada tangan selain dia"
 
Seminggu kemudian, selesai Sholat Jum'at di Masjid Dewan Dakwah Islamiyyah Jakarta Jalan Kramat Raya No. 45 Jakarta Pusat, dengan diantarkan oleh pembantu Rumah Tangga Bapak Muhammad Natsir bernama Muhammad Junaidi, asal Tegal, saya bertemu langsung dengan beliau. Saat itu beliau dalam keadaan pengobatan intensif. Ketika menerima surat dari Hamzanwadi itu, mendadak beliau duduk tegak dan meminta selembar kertas dan pena, lalu segera menulis diiringi tetesan air mata yang saya lihat jelas mengurai di balik kaca mata beliau. Sekalipun kami semua tidak mengerti apa isi kejolak hati beliau, namun kami juga turut menangis.
 
Entah beberapa bulan setelah itu, dalam waktu liburan kuliah di LIPA Jakarta, saya kembali ke Pancor untuk menyampaikan surat Bapak Muhammad Natsir kepada Maulana Asy-Syaikh yang saat itu sedang meminpin pengajian di depan Tullab Ma'had. Sebenarnya saya datang terlambat dan duduk di saff paling belakang, namun pengelihatan Maulana As-Syaikh sungguh sangat tajam, beliau lalu membuat jeda dan meminta saya maju kedepan, maka surat dari Bapak Muhammad Natsir itu segera saya sampaikan. Maulana langsung membuka dan membacanya setelah itu meminta kami semua mengaminkan do'a beliau untuk sahabatnya itu.
 
Dalam lanjutan pengajian di Mushalla Abrar itu, tidak hentinya-hentinya Maulana mengajak melantunkan wasiat renungan masa dan diantara untaian bait syairnya yang masih melekat di dalam ingatan saya adalah:
 
Telepon Sentral di alam bebas
Sambung-menyambung tidak terbatas
Ke kanan kiri bawah dan atas
Sampaikan berita kontan dan puas
 
Telepon hikmat dan berguna
Mendapat khabar pada waktunya
Dan tidak perlu ada kabelnya
Cukup ditempel pada temboknya
 
Tahun 1993, beberapa bulan sebelum Almagfuuru Lahu Bapak Muhammad Natsir wafat, saya masih sempat memberi tahukan beliau tentang peristiwa penerimaan balasan surat beliau kepada Sahabatnya Maulana As-Syaikh yang hanya beliau panggil Ustaz Zainuddin itu. Beliau kemudian menceritakan kenangan lama perjuangan beliau dalam Partai Masyumi. Saat itu banyak peziarah turut mendengarkan, seperti Bapak Abdurrahman Shaleh, Ahwar Haryono, Ahmad Sumargono dll. 
 
Di kemudian hari, mereka para pendengar inilah yang kita kenal sebagai pendiri Partai Bulan Bintang atau pengurus-pengurus pusatnya. Agar anda tidak meraba-meraba saya beritahukan bahwa Pendirian PBB itu adalah isyarat bahkan instruksi Bapak Muhammad Natsir, oleh sebab itu tanggal berdirinya PBB dipaskan dengan hari lahir beliau, tanggal 17 Juli [1908 : 1998]. Apa yang GAGAL saya fahami dari sejarah partai [yang saya turut sebagai deklaratornya di NTB ini] adalah para pendiri dan penggagas awal itu kebanyakan TERPECAT.
 
Muhammad Zainuddin, Muhammad Natsir 
Mutiara dan Berlian sejati
Satu di hulu yang lain dihilir
Ukirkan qudwah sampai mati
 
 

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Hasanain Juaini

Ketua Ponpes Nurul Haramain, Narmada, Lombok Barat, NTB.

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1391822

    Total pengunjung : 619.285
    Hits hari ini : 850
    Total Hits : 1.391.822