I

Artikel

Mengapa Dilarang Cerewet di Zaman Nabi?

Rabu
10:36:19 21 Februari 2018

 

Mungkin kita pernah mendengar narasi- narasi yang berasal dari sumber- sumber agama, terutama sumber agama Islam, seperti salah satu hadis yang menyatakan bahwa penyebab dari kehancuran kaum- kaum terdahulu karena banyaknya pertanyaan- pertanyaan yang dilontarkan kepada Nabi mereka. Lengkapnya, selain karena banyak bertanya, kaum terdahulu binasa karena pertentangan- pertentangan kepada nabi- nabi mereka.


Namun, penulis fokus pada salah satu sebab kehancuran kaum terdahulu, karena banyaknya pertanyaan- pertanyaan, atau dalam bahasa sekarang “cerewet”. Kita bisa melihat contoh cerewetnya kaum- kaum terdahulu pada Kisah Musa as yang menghidupkan kembali orang yang sudah mati, untuk mendapatkan jawaban dalang pembunuhannya. Nabi Musa as meminta disediakan sapi, namun karena ditanyakan terus, akhirnya membuat mereka sulit menemukan sapi yang disebutkan ciri- cirinya, hasil dari pertanyaan- pertanyaan mereka.


Benak penulis bertanya, apakah ini berarti dilarang bertanya kepada nabi? Tentu tidak demikian, layaknya pepatah Arab berbunyi “pertanyaan merupakan setengah dari jawaban” maka bertanya adalah hal penting yang bisa mengantarkan kepada jawaban sempurna. Lantas, apa maksud dari kehancuran kaum terdahulu karena banyak bertanya? Kitab Syarah Arbain Nawawi halaman 35- 36 diterangkan jawabannya.


Dijelaskan ada empat macam pertanyaan. Pertanyaan pertama adalah pertanyaan yang berasal dari orang yang bodoh akan kewajiban- kewajiban agama ( ilmu agama), seperti wudhu, shalat, puasa. Pertanyaan seperti ini wajib untuk ditanyakan dan diminta untuk tidak diam jika tidak mengetahui atau paham prihal agama.Kemudian, macam pertanyaan kedua adalah pertanyaan yang terkait dengan bagaimana bertafaqquh di dalam agama, semisal qadha’ dan fatwa. Untuk pertanyaan seperti ini hukumnya fardhu kifayah.


Adapun macam pertanyaan ketiga adalah pertanyaan tentang suatu hal yang tidak diwajibkan Allah swt untuk diri penanya dan orang lain. Macam pertanyaan inilah yang dilarang dipertanyakan di zaman nabi, di mana zaman nabi merupakan suatu zaman syariat Tuhan turun kepada Nabi. Ketika suatu hal yang tidak ada dipertanyakan, atau sesuatu syariat dipertanyakan lebih rinci, maka akan menyebabkan bertambahnya beban syariat karena perinciannya itu. Semisalnya, syariat untuk berhaji bagi yang mampu, nabi ditanya, “apakah setiap tahun”, hampir nabi menjawab iya, jika nabi menjawab iya, maka haji harus dilakukan setiap tahun, tentu akan sangat berat.


Lalu, macam pertanyaan keempat adalah pertanyaan yang terkait dengan ayat- ayat mutasyabihat, seperti Allah bersemayam di atas arasy. Allah bersemayam di atas arasy merupaka n sesuatu yang maklum (diketahui), tetapi bagaimana Allah bersemayam di atas arasy itu yang tidak diketahui. Ulama terdahulu meminta mengimani hal ini, dan mempertanyakannya adalah sesuatu yang bid’ah.


Terlepas dari tiga macam pertanyaan, kita fokus pada macam pertanyaan ketiga, macam pertanyaan inilah yang menunjukkan larangan untuk cerewet di zaman Nabi, karena pada saat itu penurunan syariat masih terus berjalan, terlalu banyak bertanya terhadap sesuatu yang disyariatkan pada zaman itu, akan merincikan syariat tersebut, dan berefek pada bertambahnya beban syariat yang harus dikerjakan. Adapun pada zaman sekarang, karena syariat sudah berhenti diturunkan, maka cerewet untuk bertanya tidak dipermasalahkan. (21/02). 3L/SuaraNW

Sumber foto: kbknews.id

Share

Artikel Lainnya

Tentang Penulis

Salim Rahmatullah

Komentar

Berita Populer

Artikel Populer

Nasihat TGB

Statistik Pengunjung

    1391014

    Total pengunjung : 619.035
    Hits hari ini : 42
    Total Hits : 1.391.014