Kisah TGH. Abdillah Yang Berharap Wafat Sebelum Gurunya

By Redaksi SuaraNW 03 Mar 2021, 16:26:21 WIBObituari

Kisah TGH. Abdillah Yang Berharap Wafat Sebelum Gurunya

SuaraNW. Com - Awal April 1984 Mispalah berduka. Banyak jamaah lintas desa, dusun, bahkan kabupaten kehilangan Tuan Guru atau tokoh agama terkemuka yang mereka cintai sosoknya. Beliau adalah TGH. Abdillah Ibrahim, pendiri Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya Lombok Tengah. 


Tuan Guru Mispalah generasi pertama ini dipanggil ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa. Seorang figur tokoh yang pandai bergaul dan tangkas beretorika. Orasi dakwahnya handal. Bagi murid bahkan gurunya, beliau adalah jawara dalam dakwah dan teladan dalam berprilaku. Dakwahnya melintasi kabupaten se pulau Lombok. 


Mulai dari Kampung Mispalah hingga menyisir Bayan Lombok Utara sampai Jerowaru dan Keruak di Lombok bagian selatan. Dari Kuripan dan Gerung di Barat hingga Terara dan Sikur di Lombok Timur. Padahal, pada masa itu, alat trasnportasi tidak seperti hari ini, namun jam terbang beliau luar biasa. Beliau datangi dan penuhi undangan para jamaah yang haus akan siraman qolbu dan nutrisi bagi rohani.


TGKH M. Zainuddin Abdul Madjid adalah figur yang banyak berjasa dalam perjalanan dakwah beliau. dalam beragam kesempatan dan majelis dakwah Hamzanwadi yang beliau bina, maulanasyaikh banyak meminta Tgh. Abdillah menjadi pengiring beliau. Beliau ditugaskan memberi pengantar pengajian. Jika berhalangan, Tgh Mispalah yang humoris inilah yang menjadi badalnya. 


Bahkan dalam sejarah pendirian pondok pesantren Darul Muhajirin Praya pimpinan Tgh. Najamuddin, Tgh. Mispalah kerap diminta memobilisasi masyarakat untuk diminta kontribusi moril dan materil mereka. Beliau punya andil yang tidak sedikit dalam merintis Ponpes Darul Muhajirin yang dulunya bernaung di bawah Organisasi NW itu.  


Takdir berkata lain. Dalam usia relatif singkat, 54 Tahun, beliau menyudahi pengabdiannya kepada ummat. Para guru, murid, dan pecintanya harus mengikhlaskan kepergian sang orator dakwah dari kampung Mispalah ini. beliau menghembuskan nafas terakhirnya malam Jumat di Rumah Sakit Islam Ibnu Hajar Mataram, 4 April 1984.


Pada saat Tgh Abdillah Ibrahim dimakamkan, jenazah beliau diangkat dan diarak menuju pemakaman. Ribuan manusia atau jamaah berebutan ingin mengambil bagian dari pengarakan jenazah beliau. 


Para jamaah rela berdesak desakan untuk sekedar mengusap jenazah beliau yang sudah mulai diangkat menuju pemakaman. Ada juga jamaah yang punya niatan yang lain yakni ada yang ingin mengambil sorban yang biasa ditaruh di atas keranda. 


Ada juga yang berebutan mengambil benang nilon atau benang sifat yang dipakai mengikat keranda mayyit. Entah apa maksudnya. Penutur pernah coba tanyakan pada salah seorang yang pernah dapatkan benang tersebut, katanya berharap dapat keberkahan dari sang tuan guru dll. Mungkin sampai saat ini masih ada yang menyimpan benang hasil rebutan tersebut.


Pada saat yang sama namun di lain tempat, tepatnya di luar arena areal pemakaman, banyak jamaah yang tidak bisa masuk karena ramainya. Mereka mengikuti prosesi pemakaman dari sawah-sawah sebelah barat masjid Nurul Iman Mispalah. Guru beliau, Maulanasyaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid yang membaca talqin dan membaca doa. 


Isak tangis sang Maha guru tumpah ke bumi larut bersama jamaah karena haru ditinggal muridnya yang tulus ikhlas dan setia. Adapun Tgh. Afifuddin Adnan asal Mamben Lombok Timur menyampaikan takziah mengenang kebaikan dan keistiqamahan almarhum.


Di saat saat jenazah beliau mulai dimasukkan ke liang lahadnya, keanehan terjadi, banyak jamaah yang melihat kubah masjid Mispalah naik terangkat melambung ke angkasa. Para jamaah yang melihat hal tersebut banyak yang takjub dan bengong keheranan melihat suatu hal yang langka terjadi (kisah ini penutur dapatkan langsung dari yang melihatnya).


Setelah selesai pemakaman kubah masjid Mispalah sudah ada lagi seperti biasa. Menurut hemat penutur, kemungkinan kubah yang naik itu sebenarnya bukan kubah masjid, namun para malaikat yang datang berbondong-bondong menjemput ruh kekasih Alloh swt, sebagai takzim dan kemuliaan dari Alloh swt kepada hamba-hamba-Nya yang alim sholeh. Hamba yang telah berjuang demi agama Alloh swt.


Dalam sebuah hadits Rasululloh saw menceritakan bahwa jika seseorang meninggal dunia akan ada para malaikat yang datang mengelilingi mereka dengan membawa baki atau tempat ruh yang akan mati, ada malaikat yang berwajah putih bersih indah dan bercahaya yang membawa baki dari surga sebagai tempat ruhnya orang orang yang berjuang membela agama Alloh swt dan orang-orang alim sholeh. 


Ada pula malaikat yang berwajah hitam legam, beringas,  dan bengis yang membawa baki yang di dalam baki tersebut kain yang sangat kasar.  Apabila ruh orang yang meninggal dunia itu adalah orang yang berdosa, dia ditaruh pada kain tersebut. 


Rasanya  seperti besi yang dipanaskan lalu di taruh di atas kain, maka kain itu kain lengket pada besi itu. Kalau ditarik maka akan terkelupas. Seperti itulah ruhnya orang orang yang banyak dosanya. Kurang lebih demikian makna riwayat hadits Rasululloh Saw yang pernah kami terima.


Tgh Abdillah Ibrahim ruhnya telah dijemput oleh para malaikat Alloh swt yang membawa rahmah dan mengiringi beliau kehadirat sang Maha Pencipta, sehingga saat itu banyak jamaah yang melihat seperti kubah masjid yang naik melambung ke angkasa. 


Firman Alloh, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154).


Menurut kisah putra sulung beliau, TGH. M. Natsir Abdullah, MA, almarhum beberapa waktu menjelang wafatnya berujar semoga beliau bisa meninggal mendahului guru beliau, Maulanasyaikh Zainuddin Abdul Madjid, atau rekan-rekan beliau yang alim soleh lainnya seperti Tgh. Lalu M. Faishal (pimpinan NU NTB) dan Tgh. Najamuddin (datok Muhajirin). "Supaya beliau-beliau yang masih hidup itu bisa mendoakan saya kelak. Saya mengharap syafaat doa mereka semua."


Beliau juga berpesan jika madrasah yang beliau dirikan harus menerima semua anak yang mendaftar tanpa melihat latar belakang ekonomi atau kedudukan wali murid itu. "Bersyukur jika banyak orang miskin yang bisa menuntut ilmu di sini." kata beliau suatu ketika. (Redaksi SNW).


Oleh : Al-Ustadz M. Syamsul Wathani, QH


Sumber : TGH. M. Natsir Abdullah dan TGH. Muhsin Syarifudin


Editor: Habib Ziadi Thohir 

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

  1. Pahru 03 Mar 2021, 22:52:59 WIB

    ada kata"kuang"mungkin maksudnya kurang.syukron

View all comments

Write a comment

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat


  Bagaimana pendapatmu tentang SuaraNW.Com?
  Sangat Bagus dan Bermanfaat
  Bagus dan Bermanfaat
  Cukup Bagus dan Bermanfaat

Komentar Terakhir

  • SharylFraps

    casino game <a href="https://nodepositcasinosem.com/ ">online casino real ...

    View Article
  • Weakezelfmalk

    online casino bonus <a href="https://playcasinosk.com/ ">casino slots ...

    View Article
  • Weakezelfmalk

    free casino games online <a href="https://onlinecasinoslotsgw.com/ ">play ...

    View Article
  • LiettipEscoto

    casino bonus codes <a href="https://casinoslotsieo.com/ ">free casino ...

    View Article